10 Hal yang Perlu Diketahui tentang Penilaian Buku Nonteks

10 Hal yang Perlu Diketahui tentang Penilaian Buku Nonteks

Nulix.id | Buku nonteks adalah jenis buku yang diposisikan sebagai pengayaan untuk digunakan di program pendidikan (PAUD/TK) dan satuan pendidikan. Buku nonteks dapat digunakan apabila telah dinilai dan dinyatakan layak digunakan melalui SK Mendikbud.

Bagi penulis dan penerbit, penilaian buku yang dilaksanakan oleh Puskurbuk Kemendikbud setiap tahun ini menjadi peluang untuk mendaftarkan kelayakan bukunya. Walaupun demikian, tidak semua penulis atau penerbit paham betul dengan mekanisme penilaian buku nonteks ini.

Foto: Hannah Wei/Unsplash

Berikut ini ada 10 tanja (tanya-jawab) tentang penilaian buku nonteks. Semoga berguna buat Anda yang hendak menilaikan bukunya tahun ini.

1. Apa itu buku nonteks?

Buku nonteks adalah istilah resmi yang digunakan oleh pemerintah untuk menyebut buku pendidikan di luar buku teks/pelajaran. Hal ini tertuang di dalam UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Buku nonteks bersifat umum sebagai pengayaan wawasan bagi para pembacanya yaitu anak usia dini, usia SD, usia SMP dan SMA, hingga para pendidik (guru). Istilah lain untuk menyebut buku nonteks adalah ‘buku pengayaan’ atau ‘buku bacaan’. Buku nonteks biasanya diperlukan untuk mengisi perpustakaan sekolah, termasuk perpustakaan daerah.

2. Dapatkah buku umum menjadi buku nonteks?

Pada prinsipnya semua buku umum dapat dijadikan buku pendidikan nonteks apabila memenuhi syarat dan ikut dinilaikan di lembaga pemerintah yang berwenang dan bertugas menilai buku nonteks. Di dalam UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, pemerintah mewajibkan buku yang digunakan di program PAUD/TK dan satuan pendidikan harus mendapatkan SK penggunaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

3. Mengapa buku nonteks harus dinilaikan?

Buku nonteks digolongkan sebagai buku pendidikan sehingga standar isi dan standar mutunya harus terjamin sehingga layak digunakan di program PAUD/TK serta satuan pendidikan dasar dan menengah. Buku nonteks dinilai oleh lembaga pemerintah yang tugas dan fungsinya berkenaan dengan penilaian buku yaitu Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), Balitbang, Kemendikbud. Ke depan penilaian ini akan dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan yang baru dibentuk.

4.  Apa saja jenis buku nonteks?

Panitia Penilaian Buku Nonteks Pelajaran (PPBNP) membagi penggolongan buku teks sebagai buku pengayaan, buku panduan pendidik, dan buku referensi. Berikut ini penggolongan dan definisinya.

 

Pengayaan Pengetahuan

(Nonfiksi)

Konten buku ini mengandung informasi dan pengetahuan, baik secara umum maupun spesifik yang dapat menambah wawasan pembaca sasaran di bidang tertentu atau terkait mata pelajaran tertentu. ·   PAUD

·   SD

·   SMP

·   SMA

 

Pengayaan Kepribadian

(Fiksi dan Nonfiksi)

Konten buku ini mengandung kiat pengembangan diri secara positif, mendorong terbentuknya akhlak mulia atau kecerdasan emosional, serta pengembangan imajinasi secara kreatif. ·   PAUD

·   SD

·   SMP

·   SMA

 

Pengayaan Keterampilan

(Nonfiksi)

Konten buku ini mengandung kiat bagaimana melakukan sesuatu secara kreatif dan inovatif sebagai bagian dari keterampilan hidup (life skill) yang dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. ·   SD

·   SMP

·   SMA

 

Pengayaan Pembelajaran

(Nonfiksi)

Konten buku ini mengandung panduan mempelajari sesuatu secara praktis atau secara mendalam terkait mata pelajaran tertentu. Di dalam buku ini dibolehkan adanya materi kegiatan, kuis, dan pelatihan. Buku jenis ini tidak identik dengan LKS atau buku kumpulan soal. ·   SD

·   SMP

·   SMA

 

Panduan Pendidik

(Nonfiksi)

Konten buku ini mengandung kiat pengembangan diri secara positif bagi para pendidik untuk meningkatkan profesionalitasnya sebagai guru. ·   PAUD

·   SD

·   SMP

·   SMA

 

Referensi

(Nonfiksi)

Konten buku ini mengandung informasi umum atau spesifik bidang tertentu yang disusun secara alfabetis atau tematik atau kronologis. Jenis buku referensi yang dinilai adalah ensiklopedia, kamus, dan atlas. ·   SD

·   SMP

·   SMA

 

Berdasarkan penggolongan tersebut buku PAUD/TK hanya disediakan untuk jenis buku pengayaan pengetahuan dan kepribadian serta panduan pendidik. Adapun untuk buku fiksi hanya terdapat pada jenis buku pengayaan kepribadian.

5. Bagaimana dengan bentuk bukunya?

Bentuk bukunya dapat berupa gambar yang bercerita (wordless picture book), buku bergambar (picture book), komik, buku yang mengandung teks dan gambar sekaligus secara proporsional, atau buku yang dominan mengandung teks.

6. Apa saja kriteria buku yang dinyatakan layak?

Kriteria utama buku yang layak adalah buku yang tidak melanggar legalitas dan norma. Tidak melanggar legalitas artinya tidak terindikasi plagiat (baik teks maupun gambar). Tidak melanggar norma artinya tidak bertentangan dengan dasar negara, undang-undang, agama, dan adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat Indonesia. Beberapa konten yang berbahaya harus dihindarkan di dalam buku, seperti ujaran kebencian, pornografi, penistaan SARA, sadisme/kekerasan, dan radikalisme.

7. Adakah kriteria lainnya yang perlu diketahui?

Kriteria lain yang dinilai adalah kriteria umum di dalam penulisan buku, yaitu

  • materi/substansi (kebenaran, kebaruan, dsb.);
  • penyajian (ketedasan, keruntutan, keterpautan, dsb.);
  • bahasa (diksi, ejaan, tata bentuk, tata kalimat, dsb.); dan
  • desain-grafika (tipografi, pewarnaan, cetakan, dsb.).

8. Siapakah yang dapat mengajukan penilaian?

Pihak yang dapat mengajukan penilaian adalah penerbit anggota Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) atau anggota APPTI (Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia). Dengan keanggotaan asosiasi yang resmi berarti penerbit juga telah berbadan hukum/berbadan usaha yang diakui oleh pemerintah.

9. Adakah syarat buku yang harus diajukan?

Buku yang diajukan adalah terbitan baru atau paling lama terbit tiga tahun sebelum tahun penilaian. Buku yang diajukan sudah ber-ISBN meskipun baru dalam bentuk dumi. Tidak ada syarat khusus untuk ukuran buku, warna isi, dan ketebalan halaman. Bentuk fisik dan ketebalan buku disesuaikan dengan peruntukan usia pembaca dan kegunaannya.

10. Apakah ada panduan penggolongan usia pembaca?

Penggolongan usia pembaca sasaran buku menggunakan Pedoman Perjenjangan yang telah dikeluarkan oleh Puskurbuk. Perjenjangan terbagi atas enam klasifikasi yang didasarkan pada kemampuan membaca untuk rentang usia tertentu. Berikut ini tabel perjenjangan.

JENJANG & KODE WARNA

NAMA JENJANG

RENTANG USIA

KELAS

A

(MERAH)

Pramembaca

0 – 3 tahun

Kelompok bermain

B

(JINGGA)

Membaca Dini

3 – 6 tahun

TK /RA

C

(KUNING)

Membaca Awal

7 – 9 tahun

1 – 3 SD

D

(HIJAU)

Membaca Lancar

9 – 12 tahun

4 – 6 SD

E

(BIRU)

Membaca Lanjut

12 – 14 tahun

7 – 9 (SMP)

F

(NILA)

Membaca Mahir

15-18 tahun

SMA

G

(UNGU)

Membaca Kritis

≥18 tahun

SMA & PT

Itulah 10 tanja penting bagi Anda yang ingin mengikuti program penilaian buku nonteks yang diselenggarakan oleh pemerintah. Tim Nulix.id bersedia memberikan konsultansi bagi penerbit Anda yang ingin mengikuti penilaian.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!