0 item in the bag

No products in the cart.

Amankah Cerita Rakyat untuk Anak?

Boleh jadi masih banyak di antara masyarakat kita yang mengidentikkan cerita rakyat tradisional (folklore) seluruhnya sebagai cerita anak-anak. Bahkan, para penulis atau penerbit pun sekali tiga uang sehingga menerbitkan buku yang berisikan cerita rakyat Nusantara hingga 365 cerita untuk setahun.

Jika mau diselisik lagi, di antara 365 cerita itu tentu ada yang aman bagi anak dan ada pula yang tidak aman. Meskipun cerita rakyat sebuah cerminan budaya, beberapanya dalam konteks kini malah berpotensi meninggalkan kesan tidak baik karena saratnya beberapa cerita mengandung seksualitas, kekerasan, dan ekpose terhadap sifat iri-dengki—mirip dengan sinetron-sinetron kini.

Saya menggambarkannya sebagai “jebakan” apabila cerita rakyat diidentikkan seluruhnya sebagai cerita anak tanpa melakukan penyaringan sama sekali. Cerita rakyat tradisional sebagai sastra kuno disebarkan melalui tradisi lisan dengan tujuan di antaranya pelipur lara (penghiburan) dan amanat yang disampaikan seorang juru cerita.

Cerita rakyat disampaikan dari mulut ke mulut dan tidak pernah diketahui siapa penyampainya kali pertama sehingga bersifat anonim. Kelisanan ini tentu memiliki kelemahan dari segi struktural yaitu konsistensi isi dan bentuk. Dalam lintasan waktu yang panjang, sangat mungkin cerita dari mulut ke mulut itu telah berubah dari bentuk aslinya. Bahkan, juga sangat mungkin satu cerita dari daerah asalnya diceritakan  lagi di daerah lain dengan kemasan yang berbeda. Karena itu, kita juga dapat melihat kemiripan antarcerita rakyat pada beberapa daerah dengan berbagai modifikasi.

Orang-orang tua zaman dahulu kemudian menggunakan cerita rakyat tersebut dalam wujud dongeng sebagai bagian dari pendidikan untuk membesarkan anak-anaknya. Dongeng-dongeng itu begitu merangsang imajinasi anak dengan plot yang sederhana, tokoh yang ajaib, dan jelas akhir ceritanya bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Dongeng memang selalu beroposisi biner yaitu menggambarkan segala sesuatu secara tegas hitam dan putih. Lihat saja dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih.

 

Baca Juga: Lahirnya Ide Keren dan Tulisan Keren

 

Riris K. Toha Sarumpaet dalam penelitiannya bertajuk “’Batu Permata Milik Ayahanda’: Dongeng Tradisional Indonesia’” termuat dalam Jurnal Perempuan 54 (2007) menyebutkan bahwa terdapat empat motif yang menonjol dalam dongeng tradisional Indonesia, yaitu (1) kepatuhan; (2) murka laki-laki dan setia perempuan; (3) iri, dengki, dan sibling rivalry; dan (4) tipu daya dan kekanakan. Ia menambahkan bahwa dongeng-dongeng itu jelas seksis, penuh dengan kekerasan sosial dan kebrutalan laki-laki, sekaligus memberi perempuan peran dan identitas yang sangat menyedihkan.

Bahkan, Riris berpendapat bahwa dengan beberapa contoh dongeng yang ada di Indonesia maka dapat dikatakan yang dibaca oleh anak-anak Indonesia dan membesarkannya adalah dongeng-dongeng yang merayakan kepasifan, kesabaran, pengorbanan, kebergantungan, termasuk kedengkian. Itu sebabnya sebuah cerita rakyat yang disebutkan sebagai cerita anak-anak patut dicermati kembali karena banyak yang mengandung konten-konten tidak patut untuk anak.

Sepengamatan saya, konten-konten tidak patut itu di antaranya (1) seksualitas (saya tidak menyebutnya pornografi, tetapi berupa dorongan seks seperti pada kisah Sangkuriang atau Bandung Bondowoso); (2) kelicikan (seperti dalam kisah Jaka Tarub); (3) kedengkian (seperti dalam kisah Bawang Merah dan Bawang Putih); (4) kesadisan (seperti dalam kisah Ketambuk Minyak); (5) bias gender yang menempatkan perempuan sebagai makhluk yang lemah dan dapat diperlakukan semena-mena. Semestinya hal ini patut menjadi perhatian para penulis cerita anak yang mengulang kembali cerita rakyat dan para penerbit.

Para penulis cerita rakyat untuk anak harus melakukan dekonstruksi (penataan ulang) terhadap cerita tersebut agar aman dikonsumsi oleh anak. Paling tidak unsur-unsur yang tidak patut dapat dihilangkan atau disamarkan sehingga tidak menonjol di dalam cerita dan membahayakan bagi anak ketika mengidentifikasi tokoh-tokoh di dalam cerita. Contohnya, dalam cerita Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari, apakah anak sebagai pembaca harus menaruh iba pada Jaka Tarub dan anaknya yang ditinggal Nawangwulan ataukah pada Nawangwulan-nya karena bajunya dicuri Jaka Tarub?  Anak sebagai pembaca harus diberi kemudahan untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam bingkai hitam dan putih, jahat dan baik.

Saya melihat kecenderungan pada buku kumpulan cerita rakyat untuk anak dengan menampilkan cerita sebanyak jumlah provinsi di Indonesia (34 cerita) atau sebanyak bilangan hari setahun bakal mengondisikan para penulis cerita rakyat untuk anak mencomot begitu saja cerita yang tersedia, lalu memodifikasi seadanya. Mereka tidak lagi berpikir melakukan dekonstruksi karena mengejar kelengkapan cerita dengan jumlah yang ditentukan tadi. Alhasil, kumpulan cerita itu menjadi tidak aman bagi anak.

Dekonstruksi cerita rakyat menjadi cerita yang aman buat anak memang memerlukan usaha dari penulis. Namun, sebenarnya juga tidak terlalu sulit karena penokohan, latar, dan plot dari cerita rakyat itu sederhana serta singkat. Para penulis dapat membangun ulang cerita sehingga menihilkan hal-hal yang diperkirakan dapat menimbulkan masalah dalam alam pikiran anak.

Kasus-kasus cerita rakyat yang mengandung konten tidak patut, baik itu dongeng, legenda, atau mitos telah sering bergulir di masyarakat sehingga menimbulkan reaksi dari orangtua. Apalagi, sebagian besar buku cerita rakyat itu memang diposisikan sebagai buku anak-anak dengan desain yang khas dan ditempatkan di rak-rak buku anak. Kejadian sering cerita rakyat dari suatu kumpulan cerita dikutip para penulis buku teks (pelajaran) untuk dijadikan contoh wacana pemelajaran. Ternyata cerita yang dikutip itu mengandung masalah dan terbaca oleh para guru atau orangtua. Alhasil, meledaklah protes yang menyatakan buku tersebut berbahaya.

Jadi, bukan ceritanya yang salah karena cerita itu tercipta dalam konteks masyarakat pada zaman dahulu dan belum tentu ditujukan untuk anak-anak. Adapun yang keliru adalah kita, baik itu penulis, penerbit, bahkan pembaca yang tidak mampu memilih dan memilah mana cerita rakyat yang pas dan masih relevan buat anak-anak kini dan mana yang tidak.

Sekarang Anda boleh mengecek koleksi buku-buku cerita rakyat Anda di rumah ataupun di perpustakaan sekolah. Adakah cerita-cerita yang menurut Anda berbahaya apabila dibaca oleh anak-anak, apalagi anak-anak SD? Nah, mari kita bangun kesadaran memfilter terhadap hal ini agar tidak lagi membesarkan anak-anak kita dengan cerita rakyat atau dongeng tidak patut bagi tumbuh kembang jiwa mereka dengan dalih kearifan lokal.

Pemerintah sendiri sepertinya perlu mempelopori hal ini dengan melakukan kajian terhadap kepatutan cerita-cerita rakyat yang tersebar jika ingin disampaikan kepada anak. Jika tetap menganggap cerita rakyat itu penting, pemerintah dapat melakukan upaya dekonstruksi cerita rakyat untuk anak-anak Indonesia agar aman dibaca. Apalagi, pemerintah melalui Puskurbuk telah mencoba menyusun konsep “perjenjangan buku” dengan memperhatikan tingkat kemampuan membaca dan psikologi anak.

Dalam perjenjangan buku tersebut tentu juga harus dicermati bahwa tidak semua cerita rakyat pantas disajikan untuk anak. Jika pun hendak menggunakan dongeng yang berasal dari muatan lokal atau kearifan lokal, upaya dekonstruksi harus dilakukan. Ini yang perlu diwanti-wanti kepada para penulis dan penerbit Indonesia.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!