0 item in the bag

No products in the cart.

Bahasa Buruk Para Penulis

Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang diselenggarakan Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Badan Bahasa) boleh jadi tidak terlalu populer di kalangan masyarakat awam, termasuk masyarakat penulis. Padahal, UKBI dapat menjadi ukuran seberapa mahir seseorang berbahasa Indonesia dalam konteks formal dan sehari-hari untuk berkomunikasi. Lagi pula biaya mengikuti UKBI sangatlah murah, tidak semahal jika seseorang harus mengikuti ujian TOEFL atau IELTS untuk bahasa Inggris.

Saya sangat menyarankan para penulis mengikuti UKBI ini karena faktanya masih banyak penulis yang berbahasa Indonesia dengan sangat buruk. Banyak penulis hanya sebatas bangga sebagai penulis, tetapi mengabaikan kebanggaannya untuk mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Meskipun ungkapan “berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” sudah seperti jargon, tidak banyak pula yang memahami apa itu itu bahasa yang baik dan bahasa yang benar.

Zaenal Arifin dan Farid Hadi dalam bukunya, 1001 Kesalahan Berbahasa Indonesia, menyebutkan perbedaan antara bahasa yang baik dan bahasa yang benar. Bahasa Indonesia yang baik ialah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku, seperti dalam situasi akrab obrolan di warung kopi, pasar, atau tempat arisan yang berbeda dengan situasi resmi seperti dalam rapat pemerintah. Jadi, bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan konteksnya.

Adapun bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa Indonesia itu meliputi kaidah pembentukan kata, penyusunan kalimat, penyusunan paragraf, dan penataan penalaran. Dengan demikian, sebuah tulisan dinyatakan menggunakan bahasa Indonesia secara benar jika menerapkan kaidah bahasa Indonesia yang standar, terutama dalam situasi formal.

Kaidah penggunaan bahasa Indonesia standar telah diperbarui melalui Permendikbud No. 50 Tahun 2015  yaitu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Tidak banyak yang tahu tentang berlakunya PUEBI ini, termasuk di kalangan penulis. Hal ini terbukti masih disebut-sebutnya EYD dalam pembahasan soal bahasa tulis. Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan atau PUEYD sudah tidak berlaku lagi sejak disahkannya PUEBI. Ada beberapa revisi dan penyempurnaan yang terdapat di dalam PUEBI jika dibandingkan PUEYD.

Saya sangat yakin bahwa sedikit sekali para penulis Indonesia mau berpayah-payah untuk mempelajari PUEBI ini karena terbukti dari hasil tulisan yang masih banyak mengandung kesalahan ejaan, seperti tanda baca, huruf kapital, dan juga kata-kata tidak baku. Mungkin karena bahasa Indonesia itu dianggap mudah dan telah dikuasai dengan sangat baik, para penulis enggan belajar tentang bahasa Indonesia yang terus berkembang.

 

Baca Juga: Mencari “Buku yang Berkarakter”

 

PUEBI hanya memuat aturan atau kaidah kebahasaan sebatas ejaan. Para penulis masih harus mempelajari tata bahasa baku bahasa Indonesia yaitu bagaimana menggunakan kata-kata berimbuhan dan menyusun kalimat. Semua itu memang pelik seperti yang pernah dituliskan oleh pakar bahasa Indonesia, Jus Badudu. Namun, para penulis memikul tanggung jawab untuk memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Perhatikan contoh kalimat berikut ini.

Pada bab hasil dan pembahasan ini lebih mengutamakan penjelasan hasil data dan informasi yang telah dipilih, kemudian menganalisisnya secara sistematis, terperinci dan kritis sesuai dengan kerangka pemikiran penulis dengan menggunakan metoda analisis yang telah ditentukan sebelumnya, dan selanjutnya menginterpretasikannya.

Apakah Anda dapat menemukan kesalahan berbahasa pada kalimat tersebut? Pertama, jelas bahwa kalimat tersebut terlalu panjang. American Press Institute pernah melakukan sebuah riset tentang kalimat. Banyaknya kata dalam suatu kalimat yang masih dapat dipahami dengan baik adalah 17 kata. Jika lebih dari 17 kata (dalam satu kalimat), kalimat itu akan semakin sulit dipahami.

Kedua, kalimat tersebut rancu karena pada kalimat pertama tidak jelas subjeknya. Selain itu, ada juga penggunaan kata tidak baku.

Pada bab hasil dan pembahasan ini lebih diutamakan penjelasan hasil data serta informasi yang telah dipilih. Data dan informasi terpilih itu dianalisis secara sistematis, terperinci, serta kritis sesuai dengan kerangka pemikiran penulis dengan menggunakan metode analisis yang telah ditetapkan sebelumnya. Selanjutnya, penulis menginterpretasikannya.

Apabila menerima sebuah buku dari seorang penulis, hal pertama yang saya cermati adalah penggunaan bahasanya. Saya kerap kali menemukan semangat menggebu dari rekan-rekan penulis itu untuk menghasilkan karya yang menggugah. Namun, saya tidak menemukan semangatnya yang kuat dan kukuh untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Faktanya, setiap kali menulis, ia selalu melakukan kesalahan berbahasa yang berulang. Tidak terjadi kemajuan penting dalam cara bagaimana ia menggunakan kata-kata, menyusun kalimat, atau menata paragraf. Setali tiga uang dengan tulisan-tulisan terdahulunya. Artinya, ia memang terus “memelihara” ketidaktahuannya menggunakan bahasa tulis secara baik dan benar, entah karena apa.

Pada Bulan Bahasa yang dirayakan setiap Oktober ini, tentu dapat menjadi momentum bagi para penulis untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesianya. Mulai saja dari hal-hal kecil memperbaiki bahasa saat menulis status di media sosial atau pesan-pesan melalui media rumpi seperti WhatsApp. Jangan abai terhadap penggunaan tanda baca, penulisan kata-kata baku, ataupun penggunaan huruf kapital dengan benar.

Jadi, berbeda halnya dengan salah tik atau typographical error (typo). Salah tik adalah ketidaksengajaan karena terjadi slip jari dalam pengetikan sehingga tidak ada hubungannya dengan pengetahuan atau keterampilan berbahasa. Namun, salah tik tetap harus dicermati karena dalam bahasa Indonesia, salah tik dapat menimbulkan arti baru yang mungkin dapat berakibat fatal dalam pemaknaan.

Media para penulis untuk menyampaikan pemikiran, perasaan, dan pengalamannya adalah bahasa—selain gambar tentunya untuk menjelaskan teks. Karena itu, kekuatan sesungguhnya seorang penulis adalah kemahiran berbahasa. Ketika ia masih “kedodoran” dalam berbahasa, boleh saja ia tetap mengaku sebagai penulis. Namun, pengakuan itu ibarat klaim seorang pendekar tanpa aji.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!