0 item in the bag

No products in the cart.

Benarkah Literasi Dapat Menangkal Hoaks?

Selasa malam (29/8/2018) sungguh saya tak sempat menyaksikan Indonesia Lawyer’s Club (ILC) yang membahas topik “Halal-Haram Saracen”. Namun, via Youtube, saya dapat menyaksikan rekaman tayangan “panas” yang menampilkan beberapa pakar, polisi, menteri, politikus, bahkan pegiat media sosial yang sangat populer bernama Jon Riah Ukur alias Jonru. Debat Jonru dan Akbar Faisal menjadi viral, lalu menghasilkan medan pertempuran baru.

Jonru, saya mengenalnya secara pribadi ketika ia pernah mengikuti pelatihan penulisan buku yang saya selenggarakan di Bandung—saya sendiri sudah lupa mungkin sekira tahun 2000. Ia sempat mengajak saya ikut mendirikan penulislepas.com kali pertama yang juga muncul sebagai nama grup mailing list—pada masa jaya-jayanya Yahoo. Namun, sejak awal adanya situs itu, saya tidak melibatkan diri lebih sering lagi dengannya. Sampai kemudian saya mendengar ia menjadi sangat terkenal menjelang pilpres 2014 lalu.

Saya tidak terusik oleh Jonru, tetapi oleh Effendi Ghazali. Di dalam ILC tersebut, Effendi Ghazali, pakar komunikasi politik, menyatakan bahwa ia agak terkejut dengan kemunculan grup Saracen yang menurutnya cara memilih namanya saja sudah meragukan. Lalu, Effendi mengilustrasikan juga bahwa jangan-jangan acara ini (ILC) berhenti pada kesimpulan normatif bahwa polisi sudah melakukan langkah-langkah yang diperlukan, termasuk upaya represif. Pada ujungnya (ia khawatir) bahwa acara ini hanya berhenti pada satu kesimpulan bahwa yang sangat penting adalah meningkatkan (daya) literasi.

Itu sindiran Bung Effendi yang menganggap sebagian dari kita terlalu serius menanggapi kasus Saracen. Akibat terlalu serius maka kita pun terlalu tegang dan seolah-olah ada alarm tanda bahaya sudah dibunyikan terkait sindikat hoaks ini. Namun, Ade Armando tidak setuju menganggap kasus Saracen dan kasus-kasus hoaks lainnya bukanlah kasus serius yang harus ditanggapi dengan santai saja sambil senyum-senyum.

Saya memang tersenyum begitu Effendi menyinggung soal literasi sebagai sindiran. Namun, ia tetap menyebutkan bahwa literasi itu memang perlu dipandang dari segala aspek, terutama fitnah itu tidak dilihat dari satu sisi saja seperti yang hanya ditujukan kepada para penguasa. Bagaimana fitnah yang ditujukan kepada orang per orang yang tidak terkait langsung dengan kepentingan pemerintah? Soal itu menurutnya juga perlu mendapat perhatian dengan menyinggung kasus komika Acho dan Habib Rizieq Shihab.

 

Menimbang Daya Literasi

Tontonan ILC yang bertajuk “Halal-Haram Saracen” ternyata belum sampai 24 jam ditayangkan sudah menghasilkan berita-berita olahan dari dua kubu. Dua kubu yang sama menjelang pilpres 2014 yaitu kubu pendukung Jokowi dan kubu pendukung Prabowo. Kubu tengah seperti saya ini hanya menonton dan sekali-sekali menalar apa yang diolah dari tontonan kemarin sebagai sebuah kebenaran atau sebagai kebetulan.

Saya bahas sedikit soal daya literasi itu. Daya literasi dianggap kekuatan untuk menangkal terpengaruhnya diri seseorang terhadap berita palsu (hoaks) dan fitnah dalam konteks perang melawan hoaks. Beberapa artikel di media daring jika Anda meramban pada mesin pencari banyak yang mengaitkan penyebaran hoaks dengan daya literasi masyarakat kita yang rendah.

Munculnya daya literasi disebabkan seseorang memiliki modal literasi dasar, yaitu kemampuan membaca dan menulis; berhitung dan memperhitungkan; serta mengamati dan menggambar. Di dalam KBBI V, lema ‘literasi’ hanya disebutkan sebagai kemampuan menulis dan membaca—entah mengapa menulis disebutkan dalam urutan pertama.

Padahal, daya literasi sejatinya tidaklah sesederhana hanya baca-tulis, bahkan lebih kompleks karena ada lagi yang disebut literasi perpustakaan, literasi teknologi, literasi visual, dan literasi media yang kemudian diringkas menjadi satu istilah bernama Literasi Informasi sesuai dengan Deklarasi Praha yang dicetuskan tahun 2003. Deklarasi Praha yang diikuti 23 negara menegaskan pentingnya menciptakan masyarakat yang melek informasi pada abad ini untuk mengatasi berbagai kesenjangan yang terjadi. Indonesia sendiri tidak ikut menandatangani deklarasi ini.

Kesimpulannya, masyarakat kita menjadi bulan-bulanan hoaks karena dianggap daya literasinya rendah—beberapa survei internasional dikemukakan sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia memang tidak literat. Lalu, apakah memang semata-mata karena daya literasinya rendah maka masyarakat kita rentan terhadap hoaks?

Tentu masih diperlukan riset soal ini, termasuk melihatnya dari sudut pandang ilmu lain, psikologi misalnya. Buktinya, mengapa masyarakat Amerika Serikat juga terpapar hoaks saat berlangsungnya pilpres yang menandingkan Donald Trump dan Hillary Clinton tahun lalu? Sebuah penyelidikan menunjukkan bahwa berita-berita hoaks yang membalikkan citra Trump menjadi positif ternyata diolah dan disebarkan melalui kota Veles, di Makedonia.

Di kota kecil itu, para remaja membuat situs dan konten berisi hoaks saat menjelang pilpres AS. Konten itu disebarkan melalui Facebook dan media sosial lainnya. Semua itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan upaya memenangkan Trump, melainkan semata-mata demi uang. Sosok Trump yang penuh kontroversial menjadi magnet untuk diolah dalam bentuk berita palsu karena memang dicari para pendukungnya di AS.

Para remaja Veles itu mendapatkan puluhan ribu Euro per bulannya dari iklan seperti dilansir oleh BBC Indonesia. Seorang remaja mengaku bahwa mereka mengolah berita-berita bombastis tentang Trump dari bahan mentah yang diambil dari situs-situs sayap kanan pendukung Trump. Beberapa berita digabung dan diolah menjadi satu berita baru. Mereka tidak peduli apakah berita itu benar atau bohong; apa yang penting bagi mereka adalah publik AS dibuat penasaran hingga mengeklik dan membagikannya.

AS dalam riset CCSU tentang peringkat negara paling literat menempati posisi ke-7—jauh sekali jika dibandingkan Indonesia yang menempati urutan ke-60 dari 61 negara. Ternyata publik AS pun termakan oleh hoaks ini meski masyarakat mereka dicap sangat literat. Jika demikian, hoaks tampaknya tidak pandang bulu terhadap daya literasi suatu bangsa. Hoaks dapat menghantam semua masyarakat, baik yang literat maupun yang tidak literat.

 

Menimbang Nalar

Ada banyak arti pada kata ‘nalar’. Di antaranya menurut KBBI V adalah pertimbangan tentang baik buruk dan sebagainya; akal budi; aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis; jangkauan pikir. Saat membaca tautan di media sosial, ada keterbatasan bagi seseorang menggunakan nalarnya, baik karena alasan waktu, alasan kuota internet, ataupun alasan karena sudah yakin. Bahkan, nalar tidak akan berfungsi dengan baik jika ada kecenderungan atau keyakinan terhadap kebenaran tertentu, termasuk kebencian akan sesuatu.

Terhadap sesuatu yang dibenci maka nalar pun tumpul karena di mata seseorang apa yang dibencinya pastilah bersalah dan patut dihujat. Demikianlah tersebarnya berita palsu atau hoaks sangat dipengaruhi oleh penggunaan nalar. Meskipun orang tersebut berpendidikan tinggi dan diyakini memiliki daya literasi tinggi, nalarnya akan mampet oleh kebencian dan taklid buta yang merasukinya.

Dalam sejarah Islam, penyebaran hoaks terjadi sejak dulu, terutama terkait dengan riwayat hadits-hadits Nabi Muhammad saw. Banyak sekali hadits palsu bertebaran. Karena itu, pertimbangan sahihnya sebuah hadits akan dilihat dari siapa yang meriwayatkannya (perawi). Jejak rekam perawi akan diteliti sedemikian rupa apakah ia pernah berbohong dalam hidupnya atau tidak. Jika terdeteksi ia pernah berbohong, gugurlah kesahihan hadits itu.

 

Baca Juga: Memburu “Aktor Intelektual” Saracen

 

Dalam hoaks masa kini, beberapa simbol yang menunjukkan “kebenaran” sebuah berita juga digunakan seperti nama-nama (tokoh, lembaga, media) yang tepercaya turut disebutkan sebagai sumber atau narasumber. Namun, pembaca tidak akan dapat mengenali siapa media atau penulis yang menyebarkannya kali pertama karena sudah viral. Contohnya, hoaks sering mencatut nama-nama tokoh bidang tertentu. Kalau hoaks tentang kesehatan, dicatutlah nama pakar kesehatan/kedokteran lengkap dengan gelar dan asal lembaganya. Kalau hoaks tentang agama, dicatutlah nama tokoh-tokoh agama.

Nalar pembaca terkadang hanya sampai pada percaya dengan nama-nama penuh kredibilitas itu, tetapi luput mempertimbangkan apakah benar mereka yang menulisnya. Dalam hal ini memang ada korelasi antara daya literasi dan penangkalan hoaks. Mereka yang sering membaca tulisan seorang tokoh yang dicatut di dalam hoaks akan langsung dapat mengenali apakah benar itu tulisan sang tokoh atau bukan.

Gaya penulisan tokoh tertentu—yang telah menghasilkan karya tulis tentunya—dapat dikenali oleh pembaca setianya. Kecuali, tetapi menurut saya ini jarang terjadi, si pembuat hoaks benar-benar canggih untuk meniru gaya menulis tokoh yang dicatutnya.

***

Demikianlah, hoaks dapat berkembang di dalam masyarakat mana pun, mau yang literat ataupun tidak literat. Saya pernah menulis kategorisasi hoaks yaitu hoaks ori, KW1, KW2, dan seterusnya.  Namun, di Indonesia hoaks KW3 dan KW4 juga “dimakan” oleh masyarakat kita, padahal yang membuat dan memproduksinya tidak pintar-pintar amat—terlalu kentara sebagai sebuah hoaks.

Jadi, bagaimana? Apakah persebaran hoaks ini perkara daya literasi rendah atau nalar yang tumpul? Sangat mungkin kedua-duanya terjadi karena dua  alasan bernama “kebencian” dan “taklid buta”.  Ketika seseorang turut menyebarkan berita yang ternyata hoaks, boleh jadi karena daya literasinya rendah dan boleh jadi karena nalarnya tumpul. Hal itulah yang dimanfaatkan oleh para pembuat hoaks, baik yang profesional maupun yang amatiran.

Jika kita menganggapnya persoalan serius, di balik ini semua pastilah ada sebuah kekuatan yang menggerakkan dengan uang dan kekuasaan mereka untuk menciptakan hoaks. Jika kita menganggapnya tidak serius dan sambil senyum-senyum, di balik semua ini hanya ada anak-anak kemarin sore atau orang-orang yang kurang kerjaan mencari perhatian atau juga sekeping dua keping emas Antam. Mereka seperti halnya Saracen, sangat mudah untuk ditemukan dan dihantam.

Benarkah daya literasi dapat menangkal hoaks? Sedikit benar jika daya literasi meningkat tak seiring dengan akal budi. Seratus persen benar jika daya literasi meningkat bersamaan dengan akal budi. Lalu, di mana akal budi itu? Yang pasti sulit mencarinya kini di media sosial, apalagi di Facebook.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!