Berkisah: Memilih antara Fiksi dan Faksi

Berkisah: Memilih antara Fiksi dan Faksi

Seorang teman di Facebook menggamit saya terkait soal faksi. Rupanya ada teman lain yang mempertanyakan genre faksi ini yang baru dikenalnya. Memang di Indonesia ini, rasanya saya salah seorang yang kerap menyebut-nyebut tentang genre faksi ini dalam dunia tulis-menulis. Pasalnya, saya memang begitu bersemangat menyelisik segala hal tentang dunia tulis-menulis, termasuk terkait dengan bentuk dan jenis-jenis tulisan sehingga bersualah dengan istilah faksi ‘faction’ tersebut.

Faksi berdasarkan penelusuran adalah istilah slang  alias tidak baku yang berkembang untuk menyebut karya tulis yang tidak dapat sepenuhnya disebut fiksi (khayalan/imajinasi) dan tidak juga dapat sepenuhnya disebut nonfiksi. Faksi adalah fakta yang dikisahkan layaknya karya fiksi. Di dalam dunia jurnalistik kita mengenal feature atau karangan khas sebagai faksi. Feature menjadi andalan majalah Tempo untuk menyajikan berita secara mendalam—alih-alih kemudian disebut sebagai jurnalisme sastrawi.

Dalam dunia penerbitan buku maka tersebutlah autobiografi, biografi, dan memoar sebagai karya faksi.  Karya-karya itu mengandung data dan fakta yang bukan berasal dari khayalan atau imajinasi penulisnya. Namun, data dan fakta itu harus dikisahkan dengan menghadirkan tokoh, latar/setting, dan alur/plot sehingga menjadi menarik untuk dibaca.

Sempat ada perdebatan bahwa biografi dan autobiografi juga dapat digolongkan sebagai karya ilmiah sehingga lebih tepat termasuk nonfiksi. Ya, boleh saja, tetapi autobiografi/biografi lebih banyak lagi yang tidak mengandung kadar ilmiah. Mungkin cara menuliskannya yang ilmiah, contohnya menggunakan pendekatan teknik penulisan sejarah berdasarkan urutan kronologis atau tematik.

Fiksi dan faksi meskipun beda-beda tipis, sama menariknya. Seorang Dahlan Iskan lebih memilih kisah masa kecilnya dinovelkan dengan judul Sepatu Dahlan yang ditulis oleh Khrisna Pabhicara. Itu adalah karya fiksi karena diwujudkan dalam bentuk novel dan kisahnya sudah dibumbui dengan imajinasi penulisnya. Begitupun kisah Laskar Pelangi meskipun berbasis kisah nyata penulisnya dan tokoh-tokoh di dalam novel itu ada dalam kehidupan nyata, Andrea Hirata tetap menempatkannya sebagai novel karena jalan cerita yang sudah tidak lagi mengikuti kisah sebenarnya.

Jadi, Anda juga dapat memilih apakah kisah hidup Anda mau dinovelkan atau mau diautobiografikan? Tiap-tiap jenis itu ada kelebihan dan kekurangannya. Kalau maksud Anda lebih menguatkan kesan terhadap pribadi Anda berikut pemikiran Anda, autobiografi adalah pilihan yang pas. Kalau maksud Anda hendak menghibur, bahkan berharap kisah hidup Anda difilmkan kelak, novel adalah pilihan yang asyik.

Namun, tunggu dulu, dalam genre naskah juga kemudian dikenalkan istilah nonfiction novel. Apalagi ini? Genre ini muncul ketika sebuah peristiwa yang nyata dan melibatkan tokoh-tokoh nyata, kemudian dikisahkan kembali dengan gaya penceritaan sastra berdasarkan hasil riset penulis dan rekaan terhadap dialog-dialog tokoh yang sudah tidak ada (sudah meninggal).  Jadi, ketika ada buku biografi dari tokoh masa lampau misalnya, Jenderal Sudirman, diterbitkan dengan gaya pengisahan seperti novel, itu berarti nonfiction novel.

Nonfiction novel menilik cirinya sebenarnya adalah faksi juga. Tokohnya ada atau pernah ada, peristiwanya benar-benar terjadi, dan tempatnya juga ada; hanya dialog-dialog direkonstruksi oleh penulisnya. Berarti itu adalah faksi.

 

Proses Lebih Penting Daripada Genre

Dalam dunia tulis-menulis genre itu dapat disebut ranah dan turunannya disebut laras. Saat di bangku SD kita mengenal ranah induk, yaitu argumentasi, deskripsi, eksposisi, dan narasi, bahkan ditambah satu lagi persuasi (hortatory). Lalu, teori pembagian ranah yang dikenal luas adalah fiksi dan nonfiksi.  Dalam istilah penulis kawakan The Liang Gie disebut khayali (fiksi) dan faktawi (nonfiksi).

Ranah fiksi melahirkan laras puisi dan prosa. Prosa melahirkan lagi sublaras bernama cerpen, novel, dan drama. Ranah nonfiksi melahirkan laras akademis, laras jurnalistik, dan laras bisnis. Tiap laras itu melahirkan lagi begitu banyak tulisan. Contohnya, laras akademis melahirkan sublaras handout, modul, diktat, buku teks sebagai kelompok bahan ajar.

Begitulah jika kita masuk lebih dalam ke dunia tulis-menulis, ditemukanlah begitu banyak “pepohonan” yang kadang pepohonan itu sudah mengalami kawin silang sehingga sudah tidak jelas lagi bentuknya. Karena itu, saya setuju dengan pepatah asing yang berbunyi “kenali rimbanya, bukan pepohonannya”. Jadi, lebih baik kita mengenali rimba dunia tulis-menulis itu lebih dulu daripada mengenali satu per satu pepohonan yang akan membuat kita semakin pusing membedakan antara satu dan lainnya.

Saya ingin mengkritik juga pola pengajaran menulis/mengarang di sekolah-sekolah kita yang berfokus pada jenis (genre) tulisan daripada proses menulis itu sendiri. Benar bahwa mengajarkan jenis tulisan itu akan mengayakan pengetahuan peserta didik terhadap berbagai tulisan untuk berbagai keperluan. Misalnya, jika ia ingin mengiklankan suatu produk, seorang penulis harus menggunakan jenis tulisan persuasif (hortatory). Namun, sadarkah kita bahwa proses lebih penting dikuasai daripada genre tulisan?

Dengan menguasai proses maka seseorang akan mudah beradaptasi untuk menulis fiksi, nonfiksi, ataupun faksi. Boleh juga orang itu berfokus menajamkan kemampuan menulisnya pada satu genre (spesialis) alih-alih memilih sebagai generalis. Jadi, antara menulis fiksi, nonfiksi, dan faksi prosesnya sama. Saya sering mengutip lima proses yang sudah disepakati para pakar pendidikan dunia dalam hal menulis/mengarang, yaitu pramenulis-menulis draf-merevisi-mengedit-menerbitkan.

 

Baca Juga: Generasi Milenial dan Cetak Biru Literasi

 

Lima proses itu terus diulang mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Sembari mengasah dan menguatkan proses maka dilatihkanlah beberapa ranah hingga laras tulisan sebagai contoh dan biarkan peserta didik memilih. Jika di dalam membaca ada yang disebut membaca untuk kesenangan, di dalam menulis pun semestinya ada kegiatan menulis untuk kesenangan.

Tema seperti “liburan” di sekolah dasar mestinya menjadi ajang menulis untuk kesenangan, bukan menulis keterpaksaan. Peserta didik dibebaskan menulis dengan jenis apa pun dan cara apa pun, termasuk menggunakan gambar-gambar untuk mengantarkan pikiran, perasaan, dan imajinasinya. Biarkan mereka berkisah dengan riang dan tidak mempermasalahkan apakah itu fiksi atau faksi.

Meminjam istilah Prof. Chaedar Alwasilah: “Pokoknya Menulis!” Kegiatannya dilakukan secara sistematis melalui kelima proses tadi dengan konsep kebebasan berekspresi. Para pendidik akan melihat bagaimana daya literasi itu bertumbuh kembang pada anak karena mereka diberi kebebasan dan kesenangan dalam berproses, terutama mengisahkan sesuatu, baik secara imajinatif maupun secara faktual. Soal ada kelemahan atau kesalahan mereka lakukan di dalam menulis, ada proses yang disebut revisi dan editing. Di situlah mereka—dengan bimbingan tentunya—dapat belajar tentang mana tulisan yang baik dan mana tulisan yang buruk.

Fiksi atau faksi? Menulis saja dan berkisahlah … itu lebih baik daripada berkeluh kesah.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!