Dicari Penulis Ulasan yang Berpengaruh

Dicari Penulis Ulasan yang Berpengaruh

Teman saya, seorang penulis berkisah. Suatu saat ia menulis ulasan soal produk sebuah merek kopi instan, lengkap dengan kritiknya di media sosial. Beberapa waktu kemudian, produsen kopi itu meresponsnya dengan mengirimkan bingkisan produk kepadanya. Berharap ia menulis ulasan yang lebih bernas untuk produk lainnya.

Teman saya yang lain, Anang Y.B., sering menulis ulasan tentang hotel di TripAdvisor—situs yang menyediakan konten review untuk para pelancong. Benefitnya? Ia kerap mendapatkan voucer menginap gratis di berbagai hotel.

Tulisan itu ternyata menggerakkan, terutama tulisan yang memiliki efek memengaruhi massa. Dalam bahasa Inggris, tulisan semacam ini disebut review. Lalu, apa bedanya dengan resensi? Saya akan bahas selanjutnya.

Agoeng Widyatmoko, seorang writerpreneur yang kini menekuni bisnis konten situs web untuk beberapa merek terkenal mengatakan bahwa kita tengah memasuki era penulisan ulasan/tinjauan (review). Review menjadi “mata uang baru” dalam dunia bisnis yang akan memengaruhi kekuatan sebuah merek.

Pertempuran merek dalam aneka produk dan jasa terus terjadi setiap waktu. Kedigdayaan merek-merek itu kini sangat bergantung pada sebuah ulasan/tinjauan. Itu sebabnya para pemegang merek kini mulai memperhatikan para penulis atau pengembang konten yang memiliki basis kuat di komunitas.

Boleh jadi mereka adalah seorang selebritas yang berpengaruh atau sekadar selebritas media sosial dengan pengikut yang superbanyak. Namun, belum tentu mereka mampu menulis ulasan atau mengembangkan konten ulasan dengan baik.

Mendiang Bondan Winarno adalah contoh selebritas dan seorang penulis ulasan yang berpengaruh untuk bidang kuliner meskipun sebagai penulis, Bondan dikenal multitalenta. Restoran atau makanan yang diulas oleh Bondan, tentu mendapatkan perhatian bagi para pencinta kuliner.

 

Percaya Meskipun Tidak Benar

Saking berpengaruhnya, orang lebih percaya pada tulisan atau si tokoh yang ibarat juru dongeng daripada kenyataan sebenarnya. Dampak negatifnya adalah sangat mungkin seseorang membuat ulasan yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Contohnya yang terjadi di London telah membuat heboh. Adalah Oobah Butler, seorang penulis ulasan. Ia menciptakan The Shed at Dulwich, sebuah restoran di halaman belakang rumah yang sebenarnya tidak ada alias palsu. Keisengan Butler ini untuk membuktikan bahwa orang dapat terkelabuhi hanya dengan sebuah review di situs paling tepercaya.

Kisah fake review ini dapat Anda tonton di tautan ini . Butler mampu membuat restoran palsunya menduduki peringkat #1 sebagai restoran paling disarankan di London.

Pada kenyataannya dengan ponsel pintar di tangan, sebagian besar dari kita sangat bergantung pada sebuah ulasan/tinjauan. Sebelum membeli sesuatu atau memesan sesuatu, kita berharap mendapatkan sebuah ulasan yang meyakinkan. Kita makin terpengaruh jika orang yang mengulas adalah sosok yang terkenal dan tepercaya.

Tipuan dalam tulisan ulasan/tinjauan sangat mungkin terjadi menggunakan para penulis amatir atau profesional yang dibayar.  Efek paling mengerikan dari ulasan ini adalah kekuatan getok tular (word of mouth) yang menyebar. Bayangkan jika itu adalah palsu.

 

Antara Ulasan dan Resensi

Apakah tulisan berupa ulasan ini sama dengan resensi? Kata resensi berasal dari bahasa bahasa Latin recenseo bermakna memeriksa kembali atau menimbang. Dalam bahasa Belanda disebut recensie dan kita kemudian mengenalnya dengan sebutan resensi. Di dunia pers, kata ini berarti sebuah tulisan yang bersifat informatif sekaligus kritis tentang buku, film, pertunjukan, musik, drama, atau karya seni lainnya.

Dalam bahasa Inggris, resensi dikenal dengan istilah review. Alfons Taryadi dalam sebuah tulisan di dalam buku Pengetahuan Dasar Jurnalistik (Christianto Wibisono [ed.], 1991) menyebutkan bahwa kata review digunakan untuk membedakannya dengan criticism (kritik). Artinya, jika kita membaca sebuah resensi novel (karya sastra) belum tentu itu adalah sebuah kritik sastra. Review lebih dianggap sebagai reportase yang melukiskan “apa, siapa, di mana, kapan, dan bagaimana”-nya suatu peristiwa kesenian. Adapun kritik adalah suatu evaluasi, penilaian, yang mengundang pendapat dari penulisnya tentang suatu karya seni seperti buku. (h. 101)

 

Baca Juga: Merdekakan Perasaan untuk Menulis

 

Mengutip Llewellyn Jones, Alfons menuliskan, “Kalau Anda membaca sebuah buku dan menulis ringkasan sambil menceritakan bidang yang dilingkupinya dan mungkin mencatat tentang gayanya, maka Anda menulis sebuah review. Tetapi kalau Anda bicara tentang buku itu dari segi pandangan Anda, kalau Anda mengatakan apakah menurut anggapan Anda buku itu baik atau jelek, dengan mengemukakan alasan-alasan mengapa Anda berpendapat begitu, maka Anda menulis sebuah kritik.”

Webster’s Third New International Dictionary mendefinisikan review bersifat informatif sekaligus kritis. Alhasil, memang perbedaan resensi dan kritik menjadi remang-remang. Namun, saya tetap menggunakan pendekatan kedua bahwa resensi atau review tetap merupakan gabungan informasi dan kritik meskipun kadar kritiknya tidak sebanyak sebuah tulisan yang benar-benar disebut “kritik”.

Kembali pada soal tulisan ulasan, resensi memang awalnya menjadi tulisan dasar untuk mengulas dengan lingkup terbatas (buku, film, musik, pertunjukan seni). Namun, kini resensi dapat dikembangkan pada apa pun: produk atau jasa. Itulah era yang kini sedang kita hadapi sebagai penulis dan sebagai pembaca.

Para pebisnis atau pemegang merek yang kuat menjadi “sangat berhitung” dengan pengaruh yang dituliskan oleh pengulas atau peninjau bebas, apalagi jika disertai kritik yang tajam. Karena itu, mereka juga merasa perlu mendekati para pengulas dan peninjau dengan harapan ada endorsement positif untuk produk atau jasa mereka.

 

Siapa Saja Menjadi Penulis Ulasan

Sewaktu SD, kita diperkenalkan dengan jenis tulisan persuasif serta juga diperkenalkan dengan resensi. Kini, kita tahu bagaimana tulisan-tulisan itu memang memiliki kekuatan memengaruhi orang lain. Alhasil, para penulis ulasan atau tinjauan itu adalah penebar pengaruh.

Kini siapa pun dapat menjadi penulis ulasan/tinjauan, tidak memilih apa pun latar belakangnya. Setiap orang dapat menjadi penulis ulasan film Dilan 1990, produk S-Tee yang disiapkan Sosro untuk melawan pesaingnya, usaha kue oleh-oleh yang dimiliki seorang artis atau ibu rumah tangga biasa, restoran nasi Padang murah-meriah sekaligus enak, pengobatan alternatif yang menggunakan jus untuk terapi, produk susu kambing, atau bahkan sekolah alam yang menawarkan kurikulum alternatif.

Untuk menjadi penulis ulasan berpengaruh disarankan agar fokus pada satu bidang atau topik demi menguatkan posisi sehingga tepercaya. Jika mau menjadi penulis ulasan tentang kopi, termasuk warung atau kafe yang menyediakan kopi, tentu seorang penulis ulasan lebih baik merupakan pengopi sejati dan menguasai pengetahuan berbagai jenis kopi.

Namun, demi membangun kredibilitas, tentulah objektivitas harus menjadi standar para penulis ulasan/tinjauan.  Meskipun dibayar, ia harus tetap memiliki posisi tawar untuk mengulas dan meninjau sebuah produk atau jasa apa adanya berikut kritik yang membangun. Ia mempertaruhkan reputasinya sebagai peninjau untuk menyatakan sesuatu itu layak dikonsumsi atau digunakan dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Tertarik menjadi penulis ulasan/tinjauan? Atau Anda sudah melakukannya secara sadar ataupun tidak sadar? Sekarang, gunakan itu sebagai “mata uang baru” untuk menguatkan reputasi Anda sebagai penulis profesional.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!