0 item in the bag

No products in the cart.

Efek Dilan dan Literasi yang Tertolak

Jumat, 1 Februari 2018

Beberapa hari ke belakang begitu berkecamuk di benak saya tentang anak muda Indonesia. Pertama, tentang tokoh fiktif rekaan Pidi Baiq bernama Dilan yang segera menjadi magnet sebangsa dan setanah air. Kedua, tentang merasa gagahnya seorang mahasiswa mengacungkan “kartu kuning” kepada Presiden Jokowi sebagai bentuk peringatan dan protes terhadap beberapa permasalahan bangsa yang menurutnya belum tuntas. Ketiga, tentu saja kabar menyesakkan dada tentang seorang guru SMA muda yang dipanggil Pak Budi harus tewas di tangan muridnya saat proses belajar mengajar.

Pertanyaan orang yang sok tua seperti saya, “Mau ke mana anak-anak muda kita kini?” atau “Ada apa dengan anak-anak muda kita kini?”

Kisah Dilan, lalu mahasiswa bernama Zaadit, dan Pak Budi seperti menyambungkan sehelai benang merah dari sehelai kain hasil tenun kebangsaan. Romantis, heroik, sekaligus miris yang membuat benang merah itu mengandung warna delima dan darah. Warna itu dipercayai beberapanya terbentuk dari literasi.

Tulisan saya ini memang berfokus pada literasi yang didasari akal budi—pikiran dan perasaan hakiki sebagai manusia. Kita dapat belajar dari satu rangkaian peristiwa terkait Dilan, Zaadit, atau Pak Budi.

Dalam perjalanan menumpang kereta Argo Parahyangan Premium menjelang Maghrib, saya terus memikirkannya sembari terkantuk-kantuk—efek dari kelelahan memberikan pelatihan penulisan tiga hari berturut-turut sebelumnya. Tiba-tiba suara Dilan versi Iqbaal CJR—sepertinya tren nama generasi milenial itu huruf vokal ‘a’ dibuat ganda Iqbaal dan Zaadit—yang baru saya tonton dari official thriller-nya bergema:

Menulis (tentang ini) itu berat. Kamu nggak kan kuat. Biar aku saja.

Namun, saya paksakan tetap menulis keesokan harinya ….

 

Sabtu, 3 Februari 2018

Siang itu saya mampir di sebuah jejaring toko buku besar. Dua novel karya Pidi Baiq yaitu Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dan Milea: Suara dari Dilan terpajang langsung di deretan pertama. Posisi yang didapat kembali setelah filmnya ditayangkan dan mulai merambat menjadi film box office di Indonesia.

Saya belum membaca novel Dilan, tetapi langsung menonton filmnya. Saya hampir bertemu dengan Pidi Baiq di sebuah kafe persis di belakang Kantor Pos Pusat Bandung yang konon menjadi markas The Panas Dalam—saat itu rapat difasilitasi Cipika Bookmate Indosat. Namun, ternyata urung karena sang Ayah, Pidi Baiq, ada pertemuan mendadak. Jadi, saya belum kenal secara pribadi dengan Pidi Baiq.

Namun, saya merasa dekat dengan rekaannya karena tokoh Dilan adalah anak SMA tahun 1990-an. Tahun itu adalah tahun saya berada di kelas 2 SMA jurusan fisika di Medan. Jadi, tahun itu melatari juga kenangan sang penulis Pidi Baiq (kelahiran 1972) saat menempuh SMA di Bandung.

Sejak filmnya ditayangkan, kutipan dialog Dilan menjadi viral dan menimbulkan efek Dilan se-Indonesia. Beberapa prediksi menyebut film “Dilan 1990” ini bakal menggeser film yang bertengger di urutan terlaris di Indonesia.

Sikap, sosok, dan tutur Dilan memang terbilang istimewa—unik sekaligus nyeleneh.  Kalimat-kalimat yang diutarakannya kepada Milea adalah rayuan-rayuan gombal versi ori, bukan KW. Saya kira pastilah para gadis yang menonton ini ataupun mantan gadis era 1990-an dibuat baper tingkat provinsi.

Rindu itu berat …. Kamu nggak kan kuat. Biar aku saja!

Ungkapan ini mendadak viral di media sosial, lalu dimodifikasi secara berjemaah. Begitu pula ungkapan ini yang melambungkan hati seorang gadis bernama Milea.

Cemburu itu hanya untuk orang-orang tidak percaya diri. Dan sekarang aku lagi tidak percaya diri ….

Tidak membaca novelnya, tetapi saya menonton filmnya. Film ini melemparkan saya pada era Lupus karya Hilman Hariwijaya dan Balada si Roy karya Gol A Gong. Sayang novel yang disebut terakhir era 1980-an belum difilmkan. Namun, Lupus beberapa kali difilmkan dengan bintang kala itu (alm.) Ryan Hidayat dan pernah juga diperankan langsung oleh Hilman Hariwijaya. Lupus juga dibuat versi serial TV-nya.

Lupus menjadi fenomenal sebagai novel best seller, termasuk filmnya. Meski setting cerita adalah masa-masa SMA, saya membaca Lupus sejak SMP hingga awal SMA, bahkan boleh dibilang tergila-gila dengannya.

Berbeda dengan tokoh Dilan yang super-romantis, tokoh Lupus tidak demikian. Lupus lebih populer dengan kekocakan dan kedegilannya. Lupus didesain sebagai cerita komedi remaja dengan aneka peristiwa. Namun, kisah percintaan selalu ada sebagai bumbu yang menarik sepanjang masa.

Dilan tentu tampak lebih perkasa dari Lupus. Ia adalah panglima perang dari geng motor serta digambarkan jagoan dengan jaket blue jeans belel dan tunggangan motor Honda CB 100.

Kejagoan Dilan salah satunya terlihat pada adegan ia melawan Pak Suripto yang menarik kerah bajunya, lalu menampar wajahnya. Selintas adegan ini mengingatkan saya suatu hari di kelas 3 Fisika 3. Suatu ketika wali kelas saya menghardik seorang siswa yang ribut di kelas. Namun, entah mengapa tiba-tiba teman saya yang justru bukan sasaran kemarahan sang guru malah berdiri dan menantang si wali kelas dengan suara tinggi.

 

Baca Juga: Generasi Milenial dan Cetak Biru Literasi

 

Jadi, kasus Dilan itu kasus yang juga terjadi ketika ada ketegangan bertensi tinggi antara guru dan murid. Adalah hal biasa pada 1980-an dan 1990-an seorang guru menampar, menjambak, menendang, atau menempeleng muridnya. Ada yang diam tak berkutik dan ada pula yang akhirnya melawan seperti Dilan.

Dilan berkilah, “Saya tidak melawan guru. Saya melawan Suripto ….” (tanpa lagi ada kata “pak” untuk menunjukkan ketidakhormatannya).

Dalam kisah Lupus tidak ada kekerasan faktual semacam itu yang terjadi pada era 1980-an dan 1990-an. Lupus adalah karya literasi yang manis dan lucu, sedangkan Dilan adalah karya literasi manis dan gagah.

***

Walaupun begitu, tentu ada saja yang mencibir Dilan sebagai karya literasi yang tidak literat—mengandung kehalusan akal budi. Apalagi, yang merasa tidak menemukan makna kehidupan di situ. Namun, faktanya virus Dilan dengan cepat merambat memengaruhi anak-anak muda Indonesia untuk bersikap layaknya Dilan.

Sosok Dilan meskipun berani “melawan” guru yang dianggapnya tidak benar, dalam pengisahan Pidi Baiq bukanlah sosok yang siap membunuh gurunya—seperti yang terjadi pada Pak Budi. Dilan yang panglima perang geng motor, tetap memiliki cinta meskipun dengan pembelaannya terhadap cinta itu ia siap menghajar, bahkan menghilangkan siapa pun.

Sosok Dilan cukuplah seperti Zaadit yang dipersepsikan sebagian besar orang adalah sikap “kurang ajar” terhadap orang tua atau orang yang dihormati. Biasa saja meski adat ketimuran pasti dibawa-bawa.

Film Dilan seperti halnya Laskar Pelangi sangat besar kemungkinan mendorong penjualan novelnya. Hal menarik tampaknya novel Dilan tidak akan dianjurkan untuk dibaca oleh para guru yang merasa novel ini tidak literasi banget. Di situ jelas dengan latar dunia geng motor, ada kata-kata makian, termasuk kata-kata yang akrab dengan anak-anak muda Bandung: anjing! Apalagi, ada peristiwa Dilan melawan guru.

Dilematisnya novel Dilan adalah novel yang cenderung digandrungi anak-anak muda kini, bahkan orangtua. Pilihan kata dan pengisahan Pidi Baiq faktanya sangat disukai. Bahkan, tokoh Dilan benar-benar membuat baper dengan rayuannya, puisinya, dan sikapnya.

***

Tiba-tiba saya teringat bahwa novel Dilan pernah diajukan penerbitnya tahun lalu untuk dinilai sebagai buku nonteks pelajaran (BNTP). Saat itu saya menjadi anggota tim panitia penilai di Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud. Namun, saya lupa apakah novel itu dinyatakan lolos penilaian atau tidak.

Mungkin ada penolakan karena alasan yang saya sampaikan tadi, misalnya ada kata-kata makian atau beberapa penilai merasa novel ini mendorong siswa untuk berpacaran serta sikap tidak patut, sekali lagi, melawan guru. Di sisi lain saya “membela” novel semacam ini yang bermuatan kata-kata atau cerita tidak patut adalah dilihat dari konteksnya. Masa iya sesama geng motor harus berdialog dengan sopan dan santun? Selain itu, dilihat juga dari pembaca sasarannya yaitu anak-anak SMA yang jelas sudah dapat berpikir logis.

 

Baca Juga: Membaca Generasi Milenial

 

Kesimpulan yang penting apakah menolak atau meloloskan sebuah novel adalah tendens (tujuan-tujuan) dan makna dari novel tersebut yang masih menempatkan akal budi. Cinta pada lawan jenis, cinta pada orangtua, cinta pada guru, dan cinta pada sesama manusia secara wajar adalah hal-hal yang dapat menetralkan peristiwa-peristiwa tidak patut sebagai fakta di dalam cerita.

Menolak novel-novel pop yang sangat disukai pembaca muda dengan alasan literasi yang kaku sama saja melawan arus air bah. Boleh jadi akan ada “kelucuan” bahwa buku yang dinyatakan lolos dan layak baca oleh pemerintah justru buku yang enggan dibaca. Sebaliknya, buku yang dinyatakan tidak lolos dan tidak layak baca, justru buku yang paling banyak dicari dan dibaca.

***

Efek Dilan memberi banyak pelajaran, terutama untuk mendorong mengenal penulisnya, Pidi Baiq. Beliau yang kerap dipanggil Surayah atau Ayah oleh para “pengikutnya” dapat menjadi duta literasi ke SMA-SMA agar menihilkan kasus yang terjadi pada Pak Guru Budi. Daya literasi itu saya percayai dapat didesain pada suatu bangsa, apalagi dengan memanfaatkan pengaruh dari karya-karya yang meledak dan mengalihkan perhatian generasi milenial pada buku.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!