Jasa Ghostwriter

Jasa Ghostwriter

Jasa Ghostwriter – Pernah membaca kisah seorang tokoh, lalu Anda berurai air mata? Ya ketika sebuah kisah ditulis dengan sangat emosional, sangat mungkin Anda juga terbawa arus haru, lalu menitikkan air mata.

Namun, soal “kecengengan” di dalam kisah para tokoh ini sempat disindir Petrik Matanasi di Tirto.id dalam artikelnya berjudul “Narasi Cengeng Segelintir Tokoh”. Ia menyentil autobiografi yang ditulis oleh Aburizal Bakrie, Chairul Tanjung, Mario Teguh, Merry Riana, dan Muljadi.

Menurut sang penulis, pada beberapa bagian kisah para tokoh sering terlalu “lebay” mengekspose yang mereka sebut penderitaan. Padahal, kehidupan pribadi mereka dan latar belakang orangtuanya masih lebih baik dibandingkan orang lain. Jadi, bumbu kisah bagaimana mereka meraih sukses dengan segala keterbatasan dianggap bakal menggugah pembaca.

Dalam jagat penulisan, autobiografi sering dikerjakan oleh para penulis profesional yang berperan sebagai ghost writer. Para tokoh papan atas tentu tidak sembarangan memilih jasa ghost writer untuk menuliskan kisah mereka. Tokoh-tokoh itu pasti mengecek dulu portofolio dan curriculum vitae sang ghost writer (GW).

GW dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi ‘penulis bayangan’. Disebut bayangan karena identitasnya sering tidak disebut di dalam sebuah buku. Ia memang bekerja atas bayaran tertentu mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman seorang tokoh secara terpilih.

Di Indonesia, banyak penulis yang berprofesi sebagai GW. Umumnya mereka berasal dari latar belakang wartawan/jurnalis atau sastrawan. Namun, alih-alih membuat jasa ghost writer sebagai perusahaan, mereka lebih banyak bekerja sendiri.

Kembali soal kisah-kisah lebay tadi, bagi seorang GW profesional tentu hal tersebut menjadi pertimbangan. Ada kalanya sang tokoh yang ingin kisahnya dibukukan sejatinya tidak memiliki kisah yang menarik. Karena itu, seorang GW mesti bekerja ekstra keras untuk mencari bagian-bagian yang dapat diekspose—termasuk menelusuri kisah orangtua sang tokoh.

Sebenarnya, seperti dituliskan Petrik bahwa tokoh-tokoh Indonesia sering berbagi cerita hidup mereka. Meski tak bermaksud berbohong, karena terlalu emosional, seringkali cerita mereka berlebihan bahkan terdengar konyol. Ya, menjadi konyol karena dalam pandangan mereka sesuatu itu adalah penderitaan, tetapi justru ada yang lebih menderita dari mereka.

Tentu ini menjadi tantangan para penyedia jasa ghost writer untuk mencari celah-celah emosional dari kisah setiap tokoh tanpa harus membuatnya tampak lebay, apalagi ketika dipaksakan untuk difilmkan. Kemiskinan (sang tokoh) pada masa lalu kerap menjadi poin yang menarik untuk diangkat. Namun, seberapa miskin? Demikian pula kelemahan-kelemahan atau kemalangan yang terjadi pada diri seseorang juga menarik. Namun, lagi, seberapa lemah dan malang?

Misalnya, ia bangkrut karena ditipu orang ratusan juta rupiah, lalu ia berhasil bangkit kembali dengan menipu orang miliaran rupiah. Ha-ha-ha maaf sekadar intermeso.

Intinya sebuah kisah disebut menarik karena ada alur dan konflik yang dihadapi sang tokoh. Jika tidak ada konflik, alias datar-datar saja hidup ini, kisah jenis ini sulit untuk dikembangkan. Karena itu, daripada menuliskan autobiografi, mungkin sang tokoh lebih cocok menuliskan memoar. Apa beda autobiografi dan memoar? Cek artikel lain di Nulix.id.

 

Pelajaran tentang Ghostwriter dari Teman Saya

Zaman telah berganti menjadi serbadigital dan generasi baru pun telah muncul bernama generasi milenial. Namun, ghostwriter (GW) atau di dalam KBBI diistilahkan dengan ‘penulis siluman’ masih terus bergentayangan hingga kini.

Lakon ghostwriter ini dimainkan oleh beberapa teman saya. Salah satu teman menuturkan bahwa ia menekuni profesi ini setelah jatuh cinta pada dunia penulisan. Lalu, ia kukuhkan semangat untuk menetapi jalan penulisan. Karena itu, dalam benaknya semestinya penulisan bukan sekadar pekerjan, penulisan adalah bisnis.

Teman saya, kali lain menulis buku atas namanya sendiri. Katanya untuk sekadar menunjukkan eksistensinya berkarya atas gagasan dan pemikirannya sendiri. Ia tidak ingin orang mengenalnya sebagai GW, tetapi justru tidak mengenal karya-karya mandirinya. Karya-karya itu juga berguna sebagai portofolio dirinya dalam penulisan jasa ini.

Tidak banyak orang di Indonesia yang menekuni salah satu ceruk bisnis dunia penulisan yang disebut penulisan bayangan (ghostwriting). Kadang kala masyarakat sering salah tafsir tentang makna pekerjaan seorang GW. Ada yang menyangka para penyedia jasa karya tulis ilmiah (KTI) itu sama dengan GW. Alias mereka yang membuatkan skripsi, tesis, disertasi, dan KTI lainnya.

Bagi saya penulis semacam itu bukan GW, melainkan calo penulisan yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Pengguna jasa mereka sama sekali tidak menyumbangkan apa pun, selain uang tentunya.

Dalam ceruk bisnis dunia penulisan dikenal beberapa penulis jasa, yaitu ghostwriter, co-author, dan co-writer. Penulis siluman atau penulis bayangan bekerja memang layaknya siluman yang tidak terlihat dan penuh misteri. Mereka membantu menuliskan gagasan atau konsep yang dimiliki orang lain, tetapi namanya tidak dikreditkan/dicantumkan atas karya tersebut.

Berbeda dengan co-author dan co-writer. Nama mereka dikreditkan dalam suatu karya sebagai nama kedua mendampingi author (penulis/pengarang). Kedudukan co-author sedikit lebih tinggi daripada co-writer. Co-author turut terlibat dalam pengembangan gagasan dan penulisan, sedangkan co-writer hanya terlibat dalam penulisan.

 

Legalitas Jasa Ghostwriter

Tentu saja jasa penulisan bayangan itu legal karena dilakukan atas dasar perjanjian antara si pemilik gagasan (author) dan GW. Sang GW bekerja sepenuhnya atas dasar gagasan dan petunjuk author sehingga menghasilkan naskah yang layak terbit. Ia sama sekali tidak memasukkan opininya atau gagasannya ke dalam tulisan.

Di sini terjadi saling kebergantungan. Para author sangat memerlukan jasa GW karena mereka mungkin memang tidak mampu menulis dengan baik atau tidak memiliki waktu yang cukup. Jika tidak ada GW, boleh jadi gagasan-gagasan dan konsep brilian para author tidak akan pernah tersampaikan kepada masyarakat.

Informasi dari teman saya, ia bahkan membantu bukan hanya para tokoh, melainkan juga orang-orang biasa yang memiliki kisah luar biasa. Jadi, jasa penulisan bayangan ini bukan saja untuk mereka yang berduit atau populer di masyarakat, melainkan juga untuk semua orang yang memiliki gagasan atau kisah luar biasa.

 

Baca Juga: Ghostwriter Bukan Joki Tulisan

 

Namun, tidak dimungkiri bahwa di satu sisi GW adalah seorang penulis profesional yang bekerja berdasarkan bayaran. Tarif mereka bervariasi. Bahkan, ada yang bekerja dengan tarif seharga mobil kelas menengah untuk satu buku (Rp150—Rp250 juta).

Karena itu, kata teman saya ketika ia menemukan klien yang secara finansial tidak mampu membayarnya, tetapi memiliki gagasan yang sangat bagus atau latar kisah yang menarik, ia tetap akan membantu. Banyak model kerja sama yang dapat dimodifikasi dengan prinsip saling menguntungkan.

 

Nasihat untuk Calon GW

Teman saya memberi nasihat untuk menjadi seorang GW juga harus siap menerima duka alias kejadian yang tidak diinginkan. Sering juga klien ternyata mangkir membayar setelah pekerjaan selesai. Ada juga klien yang “mencuri” gagasan pengembangan naskah setelah ia mengajukan proposal yang di dalamnya terdapat konsep. Biasanya klien seperti ini akan mencari penulis lain yang dapat dibayar murah.

Demi mengamankan modus para klien yang kurang baik, teman saya mengingatkan untuk selalu bekerja dengan perjanjian hitam di atas putih. Paling tidak ada kekuatan hukum yang dapat digunakan jika terjadi wanprestasi dari klien.

Hal lain yang diingatkan teman saya adalah tentang kesiapan tarif. Seorang GW profesional harus sudah menetapkan tarif terendah dan tarif tertinggi yang patut diterimanya. Dengan adanya “batas bawah” dan “batas atas” ini, ia leluasa untuk memutuskan dengan memperhatikan kondisi berikut: 1) kemampuan finansial klien; 2) tingkat kesulitan penulisan; 3) risiko-risiko yang mungkin timbul; 4) estimasi waktu yang diperkirakan untuk penggarapan sampai selesai.

Bayaran seorang GW dapat dengan tarif per halaman ataupun tarif per proyek buku. Contohnya untuk sebuah biografi, teman GW saya menetapkan tarif paling rendah adalah Rp50 juta untuk satu proyek penulisan. Proyek penulisan sebaiknya dikerjakan tidak lebih dari tiga bulan karena jika lewat tiga bulan maka akan menimbulkan biaya operasional tambahan sehingga cenderung merugikan.

Untuk itu, penting sekali seorang GW berdisiplin terhadap waktu dan tenggat (deadline) yang sudah ditetapkannya bersama klien. Soal waktu, terkadang ada klien yang meminta waktu yang pendek. Untuk kasus ini, tidak masalah jika klien berani membayar lebih.

Nasihat terakhir dan penting dari teman saya bahwa harus disadari lakon sebagai penulis jasa itu sama dengan lakon konsultan. Klien pasti akan mengajukan berbagai pertanyaan. Pertanyaan itu dapat merupakan cara ia mengetes seorang GW dan dapat pula karena memang ia tidak tahu.

Karena itu, GW harus menguasai segala segi tentang penulisan, proses penerbitan, hingga proses pencetakan, bahkan juga digitalisasi sebuah karya. Pertanyaan teknis sering dilontarkan klien, GW harus menjawabnya dengan taktis. Jika GW tidak mampu menjawab, kredibilitasnya pasti dipertanyakan.

Klien juga akan bertanya tentang bagaimana proses penulisan bayangan ini dilakukan. Biasanya GW akan memulainya dengan penyiapan kerangka tulisan (outline) dan memerlukan persetujuan klien. Baru setelah itu dilakukan pengumpulan bahan dengan berbagai metode, seperti wawancara, studi pustaka, studi kasus, dan observasi.

Bagaimana, Anda tertarik menjadi seorang GW atau penulis jasa?  Anda dapat belajar dari nama-nama berikut ini: Alberthiene Endah, Anang Y.B., Fachmy Casofa, Agoeng Widyatmoko, Dodi Mawardi, dan beberapa lagi. Informasi tentang bagaimana mereka bekerja memang sebuah misteri. Namun, bayaran mereka terkadang membuat bulu kuduk merinding. He-he-he.

 

Ghostwriter Bukan Joki Tulisan

Sudah sebulan pria tua mantan pejabat itu menahan keinginannya untuk menerbitkan memoar tentang dirinya. Berkali-kali ia telah mencoba menulis, tetapi setelah ia baca, hasilnya mengecewakan. Ia juga sempat mengikuti pelatihan menulis buku yang katanya mampu membuat ia menulis dalam satu hari. Hasilnya, sama saja. Ia tetap tidak mampu menulis, padahal ia merasakan umurnya tidak akan lama lagi. Ia harus meninggalkan sesuatu untuk anak-cucunya, atau juga generasi mendatang yang memerlukan kisah pengalamannya.

Akhirnya, ia menyerah dan hampir berputus asa. Namun, seorang temannya menganjurkan ia menggunakan jasa penulis bayangan alias ghostwriter (GW).  Ide yang bagus menurutnya dan menjadi solusi agar apa pengalaman-pengalaman dan pemikiran di dalam dirinya dapat diawetkan. Untuk biaya tidak ada masalah. Tabungannya masih cukup untuk sekadar membayar jasa seorang GW. Lalu, mulailah ia mencari tahu siapa GW ternama di Indonesia.

Demikianlah munculnya profesi penulis bayangan atau GW adalah sebuah fenomena yang terjadi sejak dulu. Di dalam KBBI V terdapat istilah ‘penulis siluman’ untuk merujuk pada GW dengan makna ‘penulis yang dibayar untuk menyiapkan naskah atas nama orang lain’. Lalu, dengan pengertian itu legalkah pekerjaan sebagai GW?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membawa Anda memahami dulu munculnya profesi penulis yang satu ini. Di dalam terminologi penulisan dikenal istilah ‘pengarang’ dan ‘penulis’. Kita mengenal keduanya dengan makna yang sama. Namun, jika diselisik lebih jauh, kata ‘pengarang’ lebih merujuk pada aktivitas kreatif menghasilkan gagasan, sedangkan kata ‘penulis’ lebih merujuk pada aktivitas mekanis menghasilkan tulisan.

Jadi, ada pembeda antara pengarang ‘author’ dan penulis ‘writer’. Bahkan, pengarang sering disematkan kepada pencipta karya sastra, sedangkan penulis disematkan pada pencipta karya-karya nonfiksi. Seseorang dapat saja menjadi pengarang sekaligus penulis. Namun, ada juga yang hanya punya gagasan, tetapi sama sekali tidak mampu menulis.

Kondisi tersebut melahirkan profesi bernama penulis lepas atau penulis bebas yang mendedikasikan keterampilannya untuk membantu mengalirkan gagasan orang lain. Contohnya, dunia mengenal Mark Victor Hansen sebagai penulis pendamping ‘co-writer’ untuk Jack Canfield dalam seri buku laris Chicken Soup. Kenneth Blanchard sering berpasangan dengan Spenser Johnson untuk buku-buku manajemen populernya seperti One Minute Manager.

 

Baca Juga: Ketika Anda Harus Menerbitkan Biografi

 

Di Indonesia lakon sebagai penulis lepas yang mendampingi para pemilik gagasan ini dilakukan juga oleh nama-nama, seperti Alberthiene Endah, Dodi Mawardi, Anang Y.B., dan Fachmy Casofa. Para penulis pendamping ini ada yang dikontrak oleh penerbit dan ada pula yang dikontrak langsung oleh pemilik gagasan.

Berbeda dengan penulis pendamping, penulis bayangan atau GW menulis tanpa disebutkan kredit namanya sebagai penulis. Namun, pada beberapa kasus nama GW juga ada yang disebutkan contohnya pada biografi/autobiografi. Di biografi sering dituliskan seperti ini: Seperti yang dikisahkan Mr. X kepada Bambang Trim. Ya, ibaratnya bayangan ada yang tidak terlihat dan ada yang terlihat. Hal itu berdasarkan kesepakatan antara pemilik gagasan dan penulis bayangan.

Jadi, adanya penulis pendamping atau penulis bayangan adalah solusi bagi mereka yang memiliki kisah hidup, pengalaman luar biasa, pengetahuan dan keterampilan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menulis dan mengemasnya. Tentu saja para penulis lepas atau penulis jasa itu hanya menuliskan apa yang terdapat pada si pemilik gagasan atau sering disebut narasumber ini. Penulis lepas tidak menuliskan apa yang dipikirkan dan dirasakannya secara pribadi; ia harus menahan diri untuk beropini secara pribadi karena ia sedang menjadi orang lain ketika menulis sesuatu. Di sinilah letak kepiawain seorang penulis lepas.

Oleh sebab itu, pekerjaan GW adalah legal karena merupakan hubungan saling menguntungkan antara pemilik gagasan dan penulis yang dituangkan ke dalam suatu kesepakatan. Tidak ada yang melanggar hukum dari bentuk kerja sama seperti ini. Bayangkan jika tidak ada GW di dunia ini, berapa banyak tokoh atau pakar yang berpulang tanpa meninggalkan ilmu dan pengalamannya kepada kita secara tertulis?

 

BEDAKAN DENGAN JOKI TULISAN

GW bukan joki tulisan sehingga Anda tidak perlu insaf menjadi GW karena GW legal dan bekerja atas dasar profesional. Semua presiden atau menteri yang tidak mampu menulis, pasti di sisinya ada GW. Paling tidak GW bekerja untuk membuatkan naskah pidato atau makalah dari para pejabat negara itu.

Joki tulisan itulah yang hina dan terlarang. Para joki sering membuatkan karya-karya akademis, seperti skripsi, tesis, dan disertasi dengan bayaran tertentu. Para joki juga ada yang menyediakan jasa layaknya minimarket palugada (apa yang lu mau, gua ada) yaitu menyediakan aneka tulisan dan judul-judul yang siap untuk dibubuhkan nama orang lain.

Para joki ini tidak dapat disebut sebagai penulis bayangan atau GW karena mereka sebenarnya melakukan kejahatan intelektual dengan melihat peluang keuntungan di situ. Lihat saja bagaimana guru-guru yang ingin naik pangkat atau mendapatkan sertifikasi harus menggunakan jasa joki tulisan demi menghasilkan karya tulis bernama laporan penelitian tindakan kelas (PTK). Dosen juga setali tiga uang karena berani membayar seorang joki tulisan untuk menghasilkan artikel agar dimuat di jurnal ilmiah atas namanya.

Joki tulisan tidak berkarya dengan mengalirkan gagasan orang lain, tetapi gagasan dirinya sendiri yang dilabeli nama orang lain. Para kliennya sama sekali tidak berbuat apa-apa untuk sekadar melakukan riset atau menyampaikan gagasannya. Klien cukup duduk manis dan tulisan segera jadi seperti yang diminta.

 

IMBALAN DAN JENIS PEKERJAAN

Sebagai penulis profesional, GW mendapatkan imbalan dari pekerjaannya, yaitu meriset, melakukan studi pustaka, melakukan investigasi, mewawancarai narasumber, dan akhirnya melakukan pekerjaan mekanis penulisan. Ada GW yang dibayar per jam untuk dedikasi waktunya melakukan segala pekerjaan penulisan. Namun, yang lebih umum GW dibayar per proyek pekerjaan, misalnya satu buku, atau juga dibayar per halaman yang dihasilkannya.

Besaran honor atau upah GW bervariasi bergantung pada jenis naskah dan tingkat kesulitan naskah yang akan dikerjakannya. Beberapa GW menerima pembayaran yang fantastis dan beberapa yang lain hanya menerima honor alakadarnya.

Umumnya GW bekerja sendiri. Namun, beberapa GW ada juga yang memiliki tim, paling tidak tim untuk melakukan transkripsi hasil wawancara dan tim untuk membantu pengolahan hasil riset. Di sini GW harus memastikan apa yang dikerjakannya bersifat rahasia.

Seorang GW profesional memang harus melakoni pekerjaan mirip dengan konsultan. Ia harus memiliki pengetahuan komprehensif bukan hanya soal penulisan, melainkan juga soal penerbitan, pencetakan, bahkan penerbitan elektronik. Sering juga klien penulisan buku meminta sarannya bagaimana buku dapat diluncurkan dan disebarkan secara luas.

Perlu juga disampaikan di sini bahwa GW tidak hanya mengerjakan order penulisan buku, tetapi juga penulisan-penulisan lainnya dengan batasan bahwa konten tulisan benar-benar gagasan klien dalam bentuk pengalaman, pemikiran, pengetahuan, dan keterampilan—sementara itu klien ada keterbatasan tidak mampu menulis atau tidak memiliki waktu. Karena itu, GW lebih banyak bekerja pada ranah penulisan nonfiksi, termasuk biografi/autobiografi/memoar yang kadang dimasukkan ke ranah faksi.

Jarang ada GW diminta menuliskan novel atau puisi karena karya sastra sifatnya karya bebas yang memerlukan imajinasi, kecuali novel biografi atau novel berbasis kisah nyata yang sudah jelas tokoh, latar, dan alurnya. Saya sendiri pernah mengerjakan novel berbasis kisah nyata sebagai GW.

Hal yang pasti bahwa GW bukanlah penulis kemarin sore. Mereka adalah para profesional yang berpengalaman, biasanya sebagai wartawan atau penulis buku yang telah memiliki banyak portofolio karya. Beberapa di antaranya mereka adalah jebolan profesional di penerbit-penerbit besar sehingga tahu betul seluk-beluk penerbitan, baik itu penerbit buku maupun penerbit media massa.

Tertarik menjadi GW atau menggunakan jasa seorang GW? Anda tidak perlu bakar kemenyan untuk menemukanya, gunakan saja mesin peramban di internet. Namun, berhati-hatilah jangan sampai salah memilih antara GW sejati dan sang joki.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!