Ketika Anda Harus Menerbitkan Biografi

Ketika Anda Harus Menerbitkan Biografi

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama serta ditambah dua lagi yaitu karya dan biografi. Tidak jarang kematian seorang tokoh diikuti dengan penerbitan biografinya. Itulah mengapa sebuah tulisan menjadi penting sebagai jejak kisah hidup seseorang, apalagi yang ditulis langsung oleh tokoh itu sendiri. Contohnya, surat-surat yang ditulis R.A. Kartini menjadi d okumen inti untuk membukukan Habis Gelap Terbitlah Terang.

Biografi menjadi satu paket komplet tentang kisah hidup seseorang yang kelak menjadi referensi bagi khalayak untuk mencari tahu tentang siapa, apa, dan bagaimana orang tersebut semasa hidupnya. Katakanlah saat ini kita ingin mengenal lebih jauh tentang Julia Perez, selain jejak-jejak dokumen digital yang menyebar di internet, kita juga dapat membaca buku Jupe: My Uncut Story yang ditulis oleh Moammar Emka beberapa waktu sebelum sang artis meninggal dunia.

Saya juga punya pengalaman pertama yang berkesan saat menuliskan sosok seorang tokoh. Sang tokoh yang saya tuliskan adalah dokter TNI berpangkat kolonel yang pernah ditugaskan memimpin beberapa rumah sakit. Ia ingin saya menuliskan sekelumit kisahnya ketika memimpin RSCM selama 62 bulan—bagaimana ia membangun manajemen profesional di RSCM dan membersihkan rumah sakit itu dari praktik korupsi yang menggerogoti ibarat kanker. Menjelang buku yang lebih tepat disebut memoar itu terbit, sang dokter melakukan operasi jantung by pass. Ia sempat melihat dumi buku dan tersenyum menjelang operasi, setelah itu ia meninggal dalam operasi. Sekali lagi, ia tidak hanya meninggalkan nama atau bintang jasa, tetapi sudah meninggalkan dokumen sejarah berbentuk buku yang sangat penting, paling tidak bagi para penerusnya.

 

Penulisan Biografi

Biografi adalah buku yang memuat sejarah hidup seseorang secara utuh dari mulai lahir hingga sampai usianya kini atau setelah ia meninggal. Biografi sebagai istilah dibedakan dengan autobiografi. Biografi ditulis oleh orang lain yang bukan si empunya kisah, sedangkan autobiografi ditulis sendiri oleh si empunya kisah.

Kalau Anda seorang penulis, Anda tentu lebih layak menuliskan sebuah autobiografi. Ini sama dengan seorang pelukis yang membuat potret atau lukisan dirinya sendiri. Tantangan yang jelas bahwa Anda harus jujur terhadap diri Anda sendiri untuk mengisahkan perjalanan hidup apa adanya, tidak dengan gaya “merendahkan diri, meninggikan mutu” alias terkesan seolah-olah bersahaja, padahal ingin dipuja. Demi menaklukkan tantangan ini, tentu Anda harus berlatih teknik menulis kisah hidup yang baik dan benar.

Di samping autobiografi yang dapat Anda tulis sendiri, ada juga yang disebut memoar yaitu buku yang memuat satu sejarah penting dalam hidup seseorang. Biasanya memoar dikumpulkan dari jurnal atau catatan harian. Kadang memoar juga ditulis terkait satu peristiwa penting dalam hidup seseorang, misalnya ketika ia menjadi pejabat atau diserahi sebuah tugas sangat penting dari negara atau misalnya seorang atlet yang punya kenangan tersendiri saat ia meraih medali emas Olympiade.

Meskipun terkesan bahwa biografi, autobiografi, dan memoar adalah ranah orang-orang terkenal, bukan berarti Anda sebagai orang biasa tidak berhak menulis sebuah biografi. Saya yakin setiap orang memiliki kisah hidupnya sendiri, baik yang pahit ataupun yang manis sebagai satu jalinan perasaan, pemikiran, dan pengalaman yang pantas untuk dibukukan. Orang-orang biasa terkadang ada yang memiliki kisah luar biasa sehingga menjadi istimewa. Lalu, bagaimana jika Anda orang biasa dengan kisah tidak luar biasa? Saya masih sangat yakin tetap ada sesuatu dalam diri Anda yang layak untuk dituliskan.

Jika Anda bukan seorang penulis, tidak perlu khawatir karena saat ini banyak penulis yang menawarkan jasa penulisan biografi, baik sebagai penulis bayangan (ghostwriter) ataupun penulis pendamping (co-writer). Untuk menyebut beberapa orang yang populer di jagat penulisan ini sebut saja: Setiawan G. Sasongko, Alberthiene Endah, Pepih Nugraha, Dodi Mawardi, Anang Y.B., dan Fachmy Casofa.

Soal penulisan biografi, Anda juga perlu tahu bahwa ada biografi resmi (official biography) dan ada biografi tidak resmi. Biografi resmi artinya biografi itu benar-benar bersumber dari sumber primer yaitu si empunya cerita dan dinyatakan valid oleh sang tokoh. Sebaliknya, biografi tidak resmi adalah biografi yang ditulis atas inisiatif penulis (bukan si empunya kisah) atau penerbit, baik dengan izin si empunya cerita maupun tanpa izin si empunya cerita. Biografi tidak resmi umumnya disusun dari sumber pustaka ataupun rekaman wawancara di media massa, media elektronik (TV dan radio), maupun media daring (internet)—bukan dari wawancara langsung.

Sewaktu Jokowi siap berlaga di pilkada Jakarta, lalu dilanjutkan pilpres, banyak biografi tidak resmi tentang Jokowi diterbitkan. Biografi resminya salah satunya adalah yang diterbitkan oleh Tiga Serangkai, lalu ditunjuklah Alberthiene Endah untuk menuliskannya. Ide membukukan Jokowi saya lontarkan saat menjadi GM di lini buku umum penerbit tua di Solo ini—jauh sebelum ada kepastian Jokowi akan maju di pilgub DKI. Lalu, bersama dirut TS, saya menghadap Jokowi di kantornya yang berjarak hanya sepeminuman teh dari kantor TS. Itulah kali pertama saya bertemu dengan beliau saat masih menjadi Wali Kota Surakarta dan kali kedua setelah menjadi presiden, belum.

Memang tidak dimungkiri penulisan biografi ini kemudian menjadi bisnis jasa. Jika Anda bertanya berapa harga untuk menuliskan biografi, nilainya mulai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jadi, kalau tidak punya uang sebanyak itu atau sayang mengeluarkannya, lebih baik Anda menulis sendiri biografi Anda alias menulis autobiografi dengan cukup berinvestasi mengikuti pelatihan menulis biografi.

Ingin lebih murah lagi? Anda tidak perlu ikut pelatihan, tetapi bacalah buku-buku autobiografi terbaik yang pernah ada, lalu pelajari. Jika Anda tetap tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli buku-buku autobiografi terbaik, cari di perpustakaan. Jika Anda tetap tidak ingin “membuang waktu” untuk membaca buku di perpustakaan, tetapi tetap ingin menulis kisah hidup Anda sendiri, ke laut aja dan saya akan tenggelamkan! Artinya, tetap ada “harga” yang harus Anda bayar untuk sebuah kisah hidup Anda yang dibukukan sehingga nantinya dapat dimanfaatkan paling tidak oleh anak-menantu-cucu Anda.

 

Sungkan Menulis Biografi

Sering juga seorang tokoh merasa sungkan membukukan kisah hidupnya karena tidak ingin dianggap sombong atau terkesan pamer meskipun ia telah dicap sukses dalam kariernya. Benar bahwa ada saja orang menulis biografi demi sebuah pencitraan. Menjelang pilkada atau nanti Pemilu 2019, pasti banyak sekali biografi politik yang terbit. Semua tokoh berebut perhatian agar orang-orang mau membaca kisah hidupnya dan menjejaki perasaan, pikiran, ucapan, dan tindakannya meskipun pada kenyataannya para pembaca disodori stigma  bahwa si tokoh adalah orang yang dapat dipercaya, cerdas, bersih, dan bersahaja.

Dalam bukunya Ranjau Biografi (2013), Pepih Nugraha menyebutkan bahwa pengultusan individu dan pencitraan adalah salah satu ranjau biografi yang harus dihindari—terutama bagi seorang penulis biografi. Seorang penulis dari Tanah Buton yang sangat populer di jagat maya, Yusran Darmawan, menyebut bahwa penulisan pencitraan ini ibarat menjual “liur” tentang sang tokoh. Saya terkekeh ketika ia menyebut istilah itu.

Karena itu, biografi sejatinya tidak identik dengan jualan “liur” atau mengagung-agungkan seseorang dengan segala pencapaiannya tanpa ada cela dalam kehidupan sang tokoh. Dalam penulisan biografi, baik si empunya cerita dan penulisnya harus jujur terhadap pembaca bahwa ada sisi-sisi lain yang perlu diketahui yang menunjukkan seseorang tidaklah meniti hidup seperti manusia setengah dewa. Jika penulis biografi terjebak pada soal ini, dipastikan akan banyak pembaca yang juga eneg membacanya.

 

Baca Juga: Nulis Kok Cuma Kulitnya

 

Jadi, soal kesungkanan tadi sangat bergantung pada kepiawaian penulis biografi meramu kisah sang tokoh sehingga ia lebih tampak sangat manusiawi berikut perasaan, pemikiran, serta pengalamannya. Buku biografi Soeharto berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya yang ditulis oleh G. Dwipayana dan maestro biografi, Ramadhan K.H., termasuk biografi yang sangat lugas menunjukkan siapa Soeharto meskipun Ramadhan K.H. mengaku ia hanya mendapatkan kesempatan satu kali mewawancarai Soeharto. Dengan durasi satu hari wawancara itu ditambah riset mendalam, Ramadhan K.H. mampu menghadirkan sosok Soeharto tanpa harus terjebak memuji-muji Bapak Pembangunan Indonesia itu.

***

Ketika Anda harus menuliskan biografi, Anda harus sadar bahwa zaman kini telah memudahkan banyak hal bagi Anda. Teknologi print on demand atau pencetakan manasuka serta buku elektronik, membuat Anda tidak harus mengeluarkan biaya besar demi mewujudkannya dalam bentuk buku. Anda juga dapat mencicil menulis mozaik kisah hidup Anda melalui sebuah sebuah blog yang kini fungsinya juga mirip sebagai catatan harian (diari).

Namun, menulis biografi bukan semata soal uang sebagai ongkos penulisan dan penerbitan, melainkan juga soal renjana (passion) demi menyebarkan apa yang ada dalam diri Anda (kisah, ilmu, keterampilan, pengalaman, dan pemikiran) kepada generasi selanjutnya. Meskipun Anda memiliki uang ratusan miliar rupiah, Anda tidak akan pernah menulis biografi jika tidak ada niat, hasrat, serta kesadaran pentingnya menyelamatkan sejarah hidup Anda—mengutip istilah Setiawan G. Sasongko (penulis biografi kawakan).

Bagaimana, masih belum yakin menuliskan kisah hidup Anda sendiri? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!