Lahirnya Ide Keren dan Tulisan Keren

Lahirnya Ide Keren dan Tulisan Keren

Dulu hanya ada koran yang dapat saya tunggu setiap hari untuk dapat membaca sekian tulisan dari para jurnalis dan penulis lepas. Saya ingat semasa kecil di Tebingtinggi Deli, Sumatra Utara, ayah saya berlangganan koran Waspada (koran legendaris di Medan) dan Harian Angkatan Bersenjata. Koran terakhir adalah koran sore sehingga saya menerima dua bacaan setiap hari dalam waktu yang berbeda.

Jika menantikan majalah, saya harus menunggu seminggu, dua minggu, atau bahkan bulanan. Waktu itu dalam usia SD, saya sekadar membaca hal-hal yang menarik perhatian dan tidak pernah terpikirkan soal siapa penulisnya. Barulah ketika beranjak remaja, saya benar-benar keranjingan membaca majalah HAI dan tabloid Monitor. Mulailah muncul kekaguman kepada para penulis remaja masa itu, seperti Hilman “Lupus” Hariwijaya, Gol A Gong, Zara Zettira, serta tokoh penulis bernama Arswendo Atmowiloto.

Saya terpukau dengan hasil-hasil tulisan keren mereka dan pastinya lahir dari ide-ide keren. Tidak terpikirkan kala itu saya akan menjadi penulis/pengarang seperti mereka. Namun, sebagai penyaluran hobi yang tren saat itu yaitu korespondensi (surat-menyurat), saya menggunakan gaya ngocol Hilman di dalam novel megabest-seller-nya, Lupus, untuk menulis surat kepada sahabat-sahaba pena saya.

 

Baca Juga: Asal Comot Gambar di Dalam Buku

 

Namun, kini zaman telah berubah. Tiap detik saya dan tentu juga Anda dibanjiri berbagai tulisan lewat media sosial dan media daring, seperti blog dan situs berita, termasuk KRJogja.com ini. Memang di antara puluhan, ratusan, bahkan ribuan tulisan yang berseliweran di internet itu, ada yang benar-benar keren, ada yang setengah keren, ada yang nyaris keren, dan lebih banyak lagi yang sangat tidak keren.

Produksi ide hingga menjadi tulisan pun tampaknya terjadi secara besar-besaran. Orang-orang makin terdorong untuk menulis dan mengeksiskan dirinya dengan tulisan. Alhasil, banyak orang yang akhirnya perlu belajar bagaimana menstimulus ide dan menjadikan tulisan yang memiliki daya—daya gugah, daya ubah, dan daya pikat.

 

Stimulus Ide Keren

Ada tiga aktivitas menstimulus ide yang selalu saya praktikkan, yaitu banyak membaca, banyak berjalan, dan banyak bersilahturahmi. Ide itu bersifat spontan datangnya sehingga saya menyebut ide adalah sebuah ‘penemuan’ bukan ‘pencarian’. Lecutan ide biasanya muncul dari memori di benak kita yang berhubungan dengan pengalaman serta pengetahuan yang juga telah tertanam. Lalu, apa hubungannya dengan tiga aktivitas tadi?

Membaca, berjalan-jalan, dan bersilaturahmi adalah tiga aktivitas yang dapat menstimulus pikiran dan perasaan melalui pancaindra. Karena itu, bersyukurlah kita jika dikaruniai pancaindra yang lengkap dan sehat. Namun, Tuhan juga Maha-adil karena kawan-kawan yang tidak beruntung memiliki satu kekurangan dari pancaindranya, tetap saja mampu menstimulus ide, bahkan terkadang lebih peka dari mereka yang memilikinya secara lengkap dan sehat.

Karena itu, mereka yang banyak membaca, banyak berjalan (bepergian), dan banyak bersilaturahmi jika ia memosisikan dirinya sebagai penulis, akan mendapatkan karunia limpahan ide setiap harinya. Apa pun yang dilihat, didengar, dikecap, dibaui (dicium), dan disentuh dapat menjadi ide—termasuk apa yang dipikirkan dan dirasakan. Semua itu sekali lagi, biasanya terhubung dengan endapan memori di dalam benak kita.

Itu sebabnya seseorang yang menulis dengan menggunakan pengalaman-pengalamannya, tulisannya akan terasa lebih “hidup” dan meyakinkan. Di sisi lain, seorang penulis yang piawai juga dapat menggunakan pengalaman orang lain, lalu mengolahnya untuk disajikan. Tulisan-tulisan keren yang bernas (berisi) pun akan tercipta.

Bandingkan dengan tulisan-tulisan yang hanya “kulit” tanpa “daging”, boleh jadi akibat karena penulisnya yang “kurang panik” dan “kurang piknik”. Kurang panik maksudnya penulis yang enggan membaca, apalagi belajar untuk menambah kapasitas dirinya, padahal zaman telah berubah drastis. Penulis yang kurang piknik jelas itu mereka yang jarang bepergian dan bersilaturahmi dengan banyak orang.

Adapun kecenderungan penulis sebagai makhluk yang soliter (senang menyendiri) tidak dapat menjadi alasan untuk tidak bepergian dan tidak bersilaturahmi. Sifat menyendiri muncul ketika menulis. Soalnya, pada saat itu penulis akan efektif menulis jika ia menutup diri dari apa pun, termasuk media sosial.

 

 

Lahirnya Penulis Keren dan Adikarya

Penulis keren tidak akan pernah dilahirkan dari dunia instan meskipun coba diupayakan dengan berbagai cara. Belajar dari kasus anak muda yang tulisanya viral dan mendapat pujian, lalu berbalik mendapat cercaan, kita dapat belajar bagaimanpun penulis keren dilahirkan dari proses panjang. Proses itu termasuk bagaimana seorang penulis bergulat dengan ide-idenya yang segar.

Ada jatuh bangun dan sekian penolakan yang harus dinikmati seorang calon penulis keren. Ia tidak serta merta menulis, lalu mendapatkan panggung yang diwarnai sorak sorai dan tulisannya dilabeli hits atau best seller.

Bagaimanapun tulisan itu melalui sebuah proses yang dinamakan proses kreatif. Di dalam buku yang disunting oleh Pamusuk Eneste bertajuk Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, sederet penulis keren Indonesia, seperti STA, Ajip Rosidi, Pramoedya, Umar Kayam, Sapardi Djoko Damono, hingga Arswendo Atmowiloto. Buku penting tersebut terbit dua jilid dan sempat diterbitkan ulang edisi revisinya.

 

Baca Juga: Haruskah Hak Cipta Buku Didaftarkan?

 

Bagi saya buku ini benar-benar keren abis karena mengungkap bagaimana penulis-penulis keren itu menghasilkan suatu adikarya. Pamusuk Eneste, sang editor dan juga seorang penulis, mampu mendorong para penulis keren itu mengungkap rahasianya menstimulus ide dan menghasilkan karya tulis yang menarik—memiliki daya gugah, daya ubah, dan daya ubah.

Satu hal yang tersirat serta tersurat, mereka melalui semuanya dengan proses! Tidak ada yang instan seperti analogi “disiram air panas, langsung dapat dimakan”.

Lahirnya para penulis keren juga tidak dapat dipisahkan dari terciptanya lingkungan yang literat di rumah, sekolah, ataupun tempat bermain para penulis itu. Lingkungan yang literat adalah lingkungan yang mendorong berlangsungnya kegiatan-kegiatan kreatif berbasis literasi, seperti membaca, mendengarkan cerita, berbicara atau berdialog tentang cerita, menulis, menggambar, bermain mainan tradisional maupun modern, dan mengamati lingkungan sekitar yang menimbulkan rasa ingin tahu.

Saya jadi teringat dengan diri sendiri bagaimana selain koran yang semestinya untuk pembaca dewasa, saya juga dilanggankan oleh orangtua saya majalah anak-anak, seperti Bobo, Tomtom, Ananda, dan Kawanku. Lingkungan bermain juga sangat literat dan kaya dengan aktivitas-aktivitas kreatif. Belum lagi meskipun tinggal di kota, ayah saya memiliki ladang dengan aneka tumbuhan dan tanaman di atasnya berikut hewan-hewan yang dipelihara ataupun hidup secara liar. Itu semua mengayakan pikiran dan perasaan saya, sekaligus terekam dalam memori masa kecil yang kadang-kadang saya panggil kembali untuk menulis cerita anak-anak ataupun topik berkaitan dengan anak.

Jadi, kekerenan itu tidak terlepas dari usaha dan proses. Karena itu, menulis saja dulu, jangan memikirkan soal terkenal, viral, dan dielu-elukan banyak orang.  Kalau itu tujuan seorang penulis, ia akan terjebak pada kotak kejumudan. Mungkin ia menjadi penulis beken, tetapi mustahil ia menghasilkan ide keren dan tulisan keren.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!