0 item in the bag

No products in the cart.

Mau Jadi Apa Belajar Penerbitan?

Ruang kuliah Politeknik Media Kreatif (Polimedia) di lantai 8 itu begitu nyaman. Pukul 8 lewat 20 menit saya sudah tiba di sana. Telat sekira lima menit dari jadwal. Hawa dingin langsung menyergap dari pendingin ruangan. Sudah ada sekira sepuluhan mahasiswa yang menunggu.

Inilah untuk kali pertama saya kembali ke kampus, mengajar di Prodi Penerbitan. Saya diminta mengisi mata kuliah Editing 2 setelah vakum mengajar selama delapan tahun. Basa-basi perkenalan pun berlangsung dengan para mahasiswa yang rata-rata kelahiran 1998.

Tentu saja saya tidak terlalu kaget ketika sebagian besar para mahasiswa itu sebenarnya kurang berminat masuk jurusan penerbitan atau boleh dibilang tidak punya renjana (passion) terhadap bidang ini. Mereka bilang kecemplung dan kalau mau dibilang lebay sebutannya terperosok.

Kondisi mereka sama seperti saya 26 tahun ketika masuk Prodi Editing—masih meraba-raba apa itu editing dan mau jadi apa kelak dengan ilmu itu. Gagal masuk ITB, saya banting stir masuk Prodi D-3 Editing di Fakultas Sastra Unpad. Senior-senior saya memberi pesan bahwa saya dan teman-teman seangkatan akan menjadi manusia-manusia langka yang disebut editor. Wow!

Sejatinya nomenklatur “Penerbitan” untuk pendidikan vokasional seperti D-3 di Polimedia ini keliru. Hal ini pernah saya kemukakan juga kepada Ketua Ikapi yang hadir dalam pertemuan dengan Kemenristike Dikti. Untuk pendidikan vokasional bidang penerbitan lebih tepat menggunakan nama “Penulisan dan Editing Profesional” (Professional Writing & Editing) seperti banyak digunakan di negara-negara lain. Adapun nomenklatur “Penerbitan” (Publishing) digunakan untuk pendidikan S-1 hingga S-3.

Penamaan tersebut tentu akan lebih relevan dalam penyusunan silabus pemelajaran dikaitkan dengan kompetensi yang diharapkan dari lulusan D-3—lulusan yang diposisikan siap kerja. Lalu, mengapa Penulisan & Editing Profesional? Dua pengetahuan dan keterampilan itu harus diajarkan secara berdampingan. Seorang penulis profesional, ia juga adalah seorang editor profesional. Sebaliknya, seorang editor profesional, ia juga adalah seorang penulis profesional.

 

CASHFLOW QUADRANT PENERBITAN

Bagaimana dengan kebutuhan akan lulusan dari pendidikan vokasional ini? Sangat besar, itu dapat saya pastikan. Para lulusan tidak hanya dapat diserap industri penerbitan buku atau industri media, tetapi juga oleh berbagai industri yang memerlukan adanya pengelolaan publikasi, termasuk lembaga-lembaga pemerintah.

Saya ambil contoh bagaimana saya dikontrak selama tiga bulan untuk mengedit dokumen-dokumen asuransi oleh sebuah perusahaan asuransi ternama di Indonesia. Saya juga pernah membantu penyusunan Peraturan Mahkamah Agung terkait mediasi dengan posisi sebagai editor. Artinya, keterampilan menulis dan mengedit itu menyasar ke semua bidang ketika bidang itu memproduksi karya tulis atau beragam publikasi.

 

Baca Juga: “Dunia Terbalik” Tanpa Editing

 

Selain penulis dan editor, ada banyak pilihan proesi bagi para lulusan prodi Penerbitan. Saya pastikan bahwa mahasiswa saya tidak mengenal profesi-profesi seperti ini: publicist, agen sastra (literary agent), perajin buku (book packager), penyedia jasa penerbitan (publishing service), atau indexer. Mahasiswa saya juga tidak tahu seluk-beluk pekerjaan penulis bayangan (ghost writer) dan penulis pendamping (co-writer/author).

Coba lihat pemetaan profesi penerbitan dengan menggunakan cashflow quadrant ala Robert Kiyosaki seperti ini. Saya mengelompokkan beberapa profesi ke dalam employee, self-employee, business owner, dan investor.

 

 

PETA OKUPASI

Sehari setelah saya mengajar, datang undangan dari Kemenkominfo bertajuk Rapat Koordinasi Penyusunan Peta Okupasi Bidang Komunikasi. Saya diundang mewakili sebagai pengurus Ikapi, tetapi Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia) juga diundang. Jadilah, momentum kegiatan ini saya gunakan untuk memetakan beragam jabatan kerja di bidang penerbitan buku sebagai upaya memetakan beragam profesi yang memerlukan SKKNI (standar kompetensi kerja nasional Indonesia).

Tentu saja ini akan menjadi jalan untuk mengeksiskan profesi penulis, editor, dan berbagai profesi di dunia penerbitan sehingga mahasiswa saya pun tidak akan lagi merasakan ada “madesu” (masa depan suram) di Prodi Penerbitan. Dalam peta okupasi akan tergambar begitu banyak profesi penerbitan yang dapat dilakoni, baik sebagai karyawan, pekerja lepas, ataupun pengusaha.

Kita tidak boleh lebay dengan pertanyaan: Dapatkah seorang penulis di Indonesia hidup dari tulis-menulis? Saya sudah lebih dari dua puluh tahun mendedikasikan hidup saya di bidang ini, sebagai penulis, editor, pendidik, dan konsultan di bidang penulisan-penerbitan. Saya hidup dari situ dan karena itu saya mendalaminya sepenuh hati, baik dalam soal ilmu maupun keterampilan.

Mau jadi apa belajar ilmu penerbitan? Saya yang gagal jadi tukang insinyur justru telah menemukan banyak relung bidang ilmu dari ilmu bernama penerbitan. Saya dapat berkeliling ke mancanegara dan berbagai tempat menakjubkan di Indonesia karena ilmu penerbitan. Saya bahkan melakoni beragam profesi yang disediakan bidang ini, termasuk berenang-renang di laut biru (blue ocean).[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!