Menantang Guru Menulis Buku

Menantang Guru Menulis Buku

MESKIPUN ada penulis yang sudah berpengalaman mengatakan bahwa menulis buku itu gampang, pada kenyataannya tidaklah demikian. Tidaklah gampang jika diembel-embeli dengan tantangan menulis buku yang bermutu, apalagi harus laku. Menulis buku, baik fiksi maupun nonfiksi, sering saya katakan memerlukan napas panjang karena seorang penulis ditantang untuk menguraikan suatu topik secara lebih lengkap, bahkan lebih mendalam dan mendetail.

Betul bahwa ada buku-buku yang disebut buku instan. Judulnya bombastis, tetapi isinya “nyaring bunyinya” alias kosong meski tidak melompong. Ada isinya, tetapi tidak memberi banyak pengetahuan atau keterampilan yang diharapkan pembaca.

Buku-buku instan (dibuat secara mendadak) itu tentu mudah saja menulisnya dalam hitungan hari, apalagi isinya lebih banyak comot sana-sini dari sumber di internet yang meluber. Jelas menuliskannya memang gampang dengan meminjam pilihan kata dan susunan kalimat milik orang lain.

Soal menulis buku yang “gampang” lagi, memang paling mudah adalah menceritakan pengalaman diri sendiri. Kategorinya tidak termasuk biografi, autobiografi, atau memoar—jenis ini malah biasanya sangat panjang dan memerlukan keterampilan khusus menuliskannya. Lebih tepatnya pengalaman itu berwujud dalam bentuk refleksi (renungan) pribadi atau juga cuplikan sebuah peristiwa yang terjadi, lalu dibumbui dengan motivasi.

Pilihan menulis seperti inilah yang sering ditawarkan di dalam pelatihan-pelatihan menulis buku, terutama pelatihan untuk para guru yang marak kini. Mereka didorong menceritakan pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka sendiri. Namun, ada hal yang terkadang dilupakan yaitu tentang kemenarikan, kepentingan, dan kekuatan pesan terhadap pembaca.

Terkadang pembaca sasaran diabaikan karena penulis tidak memulakan tulisannya dari tujuan penulisan dan deskripsi pembaca sasaran secara jelas. Ketika ditanya siapa pembaca sasaran bukunya, jawabannya sering kali terlalu umum dan tidak spesifik. Padahal, pendeskripsian pembaca sasaran secara spesifik (usia, latar belakang pendidikan, kelas sosial, minat-minat budaya, dll.) akan sangat membantu penulis mengembangkan gagasannya.

Sejatinya seorang guru memiliki kesempatan begitu banyak untuk mengembangkan gagasannya. Ia dapat menulis tentang topik mata pelajaran, baik sebagai buku pelajaran/buku sekolah maupun buku pengayaan. Ia dapat juga mengubah (mengonversi) hasil penelitian tindakan kelas (PTK) menjadi buku ilmiah populer. Ia juga dapat mengupas masalah-masalah pendidikan dan pemelajaran dari sudut pandangnya sebagai guru. Bahkan, ia juga dapat menuliskan buku-buku how to atau motivasi bagaimana menjadi guru profesional atau kiat-kiat melejitkan karier sebagai guru.

Ini menarik, ada satu kesempatan dan tantangan yang diperuntukkan bagi guru SMA/SMK. Adalah Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Kemendikbud mengadakan Lomba Penulisan Naskah Buku untuk Guru Pendidikan Menengah. Jenis naskah yang dilombakan adalah

  1. naskah buku pengayaan pengetahuan;
  2. naskah buku pengayaan keterampilan; dan
  3. naskah buku pengayaan kepribadian (fiksi dan nonfiksi).

Perihal lomba yang diadakan setiap tahun ini dapat diakses di situs kesharlindungdikmen. Namun, perlu diingat sekali lagi tentang pembaca sasaran bahwa naskah ditujukan untuk pembaca jenjang SMA/SMK (remaja usia 16 s.d. 18 tahun). Tema pada 2018 adalah “Peningkatan Penghayatan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dan Kemampuan Literasi Dasar untuk Membentuk Pribadi Manusia Indonesia yang Cerdas, Berbudaya, Mandiri, dan Kompetitif”. Adapun topik-topik naskah buku dapat dilihat di dalam pedoman lomba.

Salah satu persyaratan naskah adalah panjang isi naskah minimal 60 halaman (tidak termasuk bagian awal dan bagian akhir). Di sinilah seorang guru harus terampil mengembangkan gagasannya dalam bentuk buku yang ditulis secara ringkas (tidak bertele-tele), benar dari segi ilmu pengetahuan, mempertimbankan kebaruan (novelty), lengkap, dan tuntas. Jadi, kalau rata-rata satu bab 15 halaman, buku dapat terdiri atas 4 bab saja. Itu sudah ideal.

Tip Menang dalam Lomba

Pada seleksi tahap awal ditargetkan ada 100 orang guru yang naskahnya terpilih untuk diikutkan dalam sanggar kerja (workshop) penulisan buku pengayaan yang akan dipandu oleh para instruktur penulisan berpengalaman. Dari 100 orang yang mengikuti workshop. akan ditetapkan 50 orang sebagai nomine pemenang lomba, lalu puncaknya akan ditetapkan masing-masing 3 orang juara dari kategori nonfiksi dan kategori fiksi. Fiksi di sini khusus novel.

Saya berikan tip ringkas untuk dapat menang dalam lomba penulisan buku seperti ini.

Pertama, pilihlah topik-topik yang unik sekaligus menarik dengan dihubungkan pada kebutuhan, tren, atau kemutakhiran saat ini. Kata kuncinya adalah “masalah”. Penulis harus menemukan masalah pada setiap topik yang diangkat. Jadi, bedakan antara masalah dan fenomena. Contohnya, para remaja keranjingan gawai itu baru sebatas fenomena. Namun, para remaja keranjingan gawai hingga menyebabkan prestasinya menurun atau memunculkan kasus-kasus perundungan (bullying), ini baru ada masalahnya.

Untuk fiksi, topik juga unik dan menarik. Penulis dapat menyajikan cerita kehidupan sehari-hari yang dihadapi remaja atau juga cerita model fantasi yang melambungkan imajinasi. Ingat, yang dihadapi sekarang adalah pembaca dari generasi milenial. Mereka memiliki ketertarikan terhadap cerita yang berbeda dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Melakukan riset terhadap novel-novel remaja masa kini di toko-toko buku sangat dianjurkan.

Dalam fiksi, perhatikan kekuatan unsur instrinsik, yaitu tokoh dan penokohan, latar/setting (baik waktu maupun tempat), dan alur/plot (jalan cerita). Kesemua unsur itu harus diramu dengan baik, terutama alur agar tidak terkesan datar dan minim konflik. Menjadi penilaian lebih pada novel jika penulis dapat menyajikan alur dengan twist (kejutan-kejutan yang tidak terduga oleh pembaca).

 

Baca juga: Siapa Tertarik Menjadi Co-Author

 

Kedua, kembangkanlah topik menjadi subtopik-subtopik. Subtopik ini di dalam buku nonfiksi akan menjadi bab. Subtopik disajikan secara sistematis yaitu sesuai dengan urutan (mudah ke sulit; umum ke khusus). Jika penulis hendak menuliskan suatu pengetahuan, ia  menggunakan kaidah hierarkis dalam pengembangan bab-bab buku. Hierarkis itu berarti ada level-level pengetahuan yang harus dipahami dan dikuasai pembaca.

Jika penulis hendak menuliskan suatu keterampilan, ia menggunakan kaidah proses. Kaidah proses ini bukan seperti tingkatan, melainkan tahapan dari awal hingga akhir. Misalnya, untuk keterampilan menulis ada lima tahapan standar yang digunakan di dunia, yaitu pramenulis-menulis draf-merevisi-menyunting-menerbitkan.

Ada lagi kaidah klaster (kelompok) yang dapat digunakan penulis jika ia ingin menulis buku terdiri atas pengetahuan-pengetahuan butiran. Setiap bab membahas satu kelompok pengetahuan tanpa harus berpaut atau berhubungan dengan bab lainnya. Contohnya, penulis ingin menulis buku pengetahuan bertajuk 7 Karakter Genial Generasi Milenial maka setiap karakter dibahas sebagai satu bab yang bukan merupakan urutan atau tahapan.

Terakhir, ketahuilah aspek apa saja yang dinilai. Dalam penilaian naskah buku kali ini, aspek atau komponen penilaian mencakup materipenyajian dan bahasa, serta keliterasian.  Ringkasnya begini. Materi itu pasti terkait dengan gagasan utama dan isi naskah (soal kebenaran, soal legalitas/tidak terindikasi plagiat, soal norma).

Penyajian terkait dengan cara atau gaya menuliskan sehingga mudah dipahami, menarik untuk terus dibaca, dan menggunakan bahasa yang tepat sesuai dengan konteksnya. Lalu, keliterasian terkait dengan keseluruhan komponen yang merangsang daya literasi dasar dan literasi lainnya (literasi teknologi, literasi perpustakaan, literasi media, dan literasi visual). Literasi jika didefinisikan secara sederhana adalah kemampuan untuk mencari, memilih, memilah, dan menggunakan informasi melalui berbagai praktik literasi dasar, yaitu membaca, menyimak, berbicara, menulis, menghitung, berhitung, mengamati, dan menggambar.

Demikian tip ringkas dari saya untuk menjawab tantangan menulis buku bagi para guru. Ini tantangan yang baik karena setidaknya akan menggambarkan kualitas para guru. Guru menulis buku, apalagi buku bermutu, itu sudah tanda-tanda kemajuan Indonesia.[]

Leave a Reply

shares