Menimbang Ambisi Kota Buku Sejagat

Menimbang Ambisi Kota Buku Sejagat

Apa kabar industri perbukuan Indonesia? Jawabnya tentu baik-baik saja. Pasalnya, belum ada survei terkait industri buku yang memperlihatkan data serta fakta terjadinya sebuah pertumbuhan, stagnasi, atau malah menurun (decline). Jadi, kita anggap baik-baik saja selama masih ada buku yang terbit, masih ada buku yang mencetak hits, masih ada pameran buku, dan masih adanya para figur publik yang menulis buku.

Namun, satu hal yang patut dicatat bahwa Indonesia telah membukukan prestasi internasional di dunia buku global yaitu menjadi tamu kehormatan pada ajang Frankfurt Book Fair 2015 lalu. Paling tidak sorot mata kalangan perbukuan dunia pun tertuju kepada Indonesia. Tema 17.000 Islands of Imagination yang diusung ke Frankfurt Book Fair telah menjadi pembuktian bahwa Indonesia memiliki kekayaan literasi bermutu dari Sabang hingga Merauke. Belum semua dikeluarkan. Catat lagi itu!

Topik tentang ajang global itu pula yang mengemuka saat saya berjumpa dengan Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung, Neti Supriati, pertengahan Juli lalu. Saya diingatkan kembali tentang ambisi menjadikan Bandung sebagai Kota Buku Sejagat atau World Book Capital (WBC). Rencana ini sudah saya dengar jauh hari dari rekan-rekan di Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jabar.

Alkisah pada 2013, Kepala Perpustakaan Daerah Kota Bandung masa itu, Muhammad Anwar (yang ditunjuk sebagai Ketua Ad Hoc “Bandung Kota Buku Sejagat”), menyebutkan bahwa Bandung tengah mempersiapkan diri menjadi Kota Buku Sejagat untuk 2017.  Tahun 2014, Muhammad Anwar kembali menginformasikan bahwa persiapan tersebut baru mencapai 10%–masih jauh sementara waktu tinggal dua tahun lagi.

Alhasil, sekarang pada 2017 cita-cita yang diusung pada periode akhir kepemimpinan Dada Rosada sebagai Wali Kota Bandung—sebelum Ridwan Kamil—itu kandas. Pada tahun ini, justru Kota Accra di Republik Ghana yang mendapat predikat WBC. Bahkan, untuk dua tahun mendatang, Athena di Yunani (2018) dan Sharjah di Uni Emirat Arab (2019) telah mendapat giliran. Lalu, kapan Bandung atau salah satu kota di Indonesia dapat meraihnya?

Pertanyaan menggelitik yang memang tidak harus membuat geli. Kita tidak boleh merasa inferior dibandingkan ketiga kota dunia itu. Apalagi, Bandung di bawah Ridwan Kamil mencatatkan prestasi mampu menggelar peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika dengan sukses yang dihadiri 89 kepala negara/pemerintahan dari 109 negara di kawasan Asia dan Afrika, 17 negara pengamat, dan 20 organisasi internasional, dan 1.426 perwakilan media domestik dan asing. Jadi, masa mendapatkan predikat WBC tidak mampu?

WBC merupakan konsep yang digagas oleh UNESCO setelah sukses meluncurkan program Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia yang diluncurkan kali pertama pada 1996 dan diperingati setiap tanggal 23 April. Kota Madrid di Spanyol sukses ditetapkan sebagai WBC untuk kali pertama pada 2001. Sejak itu, UNESCO menjadikan penetapan WBC sebagai acara tahunan. Bahkan, penetapan WBC sudah dilakukan untuk tiga tahun ke depan berturut-turut seperti yang telah disebutkan. Satu-satunya kota di ASEAN yang pernah mendapatkan predikat WBC adalah Bangkok (Thailand).

Menilik bahwa tidak semua kota yang mendapat status WBC adalah ibu kota negara maka kota seperti Bandung, Jogja, Solo, Surabaya, atau bahkan Makassar juga berpotensi mendapatkan status itu. Namun, jalan ke sana memang tidak mudah karena kota tersebut harus melewati penilaian dari tiga entitas perbukuan dunia yang dilibatkan UNESCO, yaitu International Publishers Association, International Federation of Library Association and Institutions, dan International Booksellers Association.

Sejumlah kriteria pun harus dipenuhi. Pertama, pengajuan ini harus disahkan dan dipresentasikan oleh wali kota dari kota bersangkutan. Apa yang dipresentasikan adalah program yang akan dijalankan bertitik tolok dari peringatan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia serta tindak lanjutnya pada masa yang akan datang. Tentu saja program itu sangat terkait dengan keliterasian.

 

Baca Juga: Nulis Kok Cuma Kulitnya

 

Kedua, panitia yang dibentuk akan mencermati beberapa kriteria program: 1) partisipasi pada semua tingkatan (lokal hingga internasional); 2) dampak potensial dari program; 3)  ruang lingkup dan kualitas kegiatan yang diajukan serta sejauh mana penulis, penerbit, penjual buku, dan perpustakaan dilibatkan; 4) proyek lain untuk mempromosikan buku dan minat membaca; dan  5) sejauh mana program menghormati prinsip-prinsip kebebasan berekspresi, sebagaimana dinyatakan dalam Konstitusi UNESCO dan juga oleh Pasal 19 dan 27 Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia serta dengan Persetujuan mengenai Impor Bahan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya.

Jelas kriteria tersebut sangat mempertimbangkan konsep, aplikasi, dan implikasinya yang melibatkan banyak pihak: pemerintah, swasta, dan masyarakat. Sebagai contoh di Bandung, pihak yang tampak antusias soal WBC baru pada Pemkot Bandung dan Ikapi. Keterlibatan pemangku kepentingan atau pelaku perbukuan lainnya, seperti penulis, toko buku, TBM dan perpustakaan (di luar dinas pemerintah) belum terlihat masif dan bergema. Alhasil, wacana soal ini pun hanya mengemuka pada saat peringatan Hari Buku ataupun pameran-pameran buku yang digelar oleh Ikapi.

Ternyata niat dan ambisi saja memang tidak cukup jika tidak disertai keseriusan untuk merencanakannya. Bahkan, Bandung yang mengidekan predikat itu, sampai sekarang belum memiliki event perbukuan kelas internasional. Kegiatan perbukuan yang diadakan masih tingkat lokal dan nasional dalam format pameran buku ataupun bursa buku. Dari tahun ke tahun pola penyelenggaraannya masih sama meskipun labelnya berbeda.

 

Di Mana Barometer Perbukuan Nasional Kini

Tidak ada yang menafikan Bandung pernah menjadi kota yang dianggap barometer perbukuan nasional. Saya katakan pernah, berarti sekarang memang sudah tidak lagi. Barometer perbukuan itu telah bergeser ke Jakarta dan sempat pula berada di Jogjakarta.

Indikator barometer perbukuan dapat dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan penerbit buku yang menorehkan prestasi nasional yaitu buku-bukunya laris dan memberi pengaruh. Indikator kedua adalah lahirnya para artisan-artisan atau pelaku perbukuan kreatif yang juga memberi pengaruh melalui karyanya, terutama para penulis/pengarang buku. Indikator ketiga adalah tumbuhnya komunitas-komunitas perbukuan serta toko-toko buku.

Saat menjadi barometer, di Bandung tumbuh penerbit-penerbit berbagai jenis buku yang bereputasi nasional, di antaranya Alma’arif, Diponegori, Rosdakarya, Angkasa, Alumni, Ganeca Exact, Penerbit ITB, Mizan, Pustaka Salman, Syamiil (Sygma), Grafindo Media Pratama, dan MQS. Namun, sebagian besar sudah rontok ditelan zaman. Demikian pula dengan komunitas perbukuan. Pada tahun 1990-an pernah berdiri Indonesia Reader’s Club (IRC) di Bandung yang sempat menerbitkan majalah perbukuan.

Ada lebih 170 penerbit tercatat sebagai anggota Ikapi Jabar, tetapi sebagian besar sudah tidak aktif lagi menerbitkan buku, bahkan gulung tikar. Nama-nama penerbit anggota Ikapi di situs Ikapi Jabar jika diselisik sebagian besar hanya tinggal cerita. Artinya, produksi judul buku baru di Bandung pun otomatis telah berkurang drastis.

Walaupun begitu, sebagai kota kreatif, seperti halnya dunia musik menghasilkan musisi, Bandung tetap menghasilkan penulis dengan reputasi nasional. Nama-nama populer yang berasal dari Bandung—meskipun tidak semua asli Bandung—banyak mewarnai jagat perbukuan nasional saat ini, sebut saja di antaranya Dewi “Dee” Lestari, Pidi Baiq, Hernowo, Tasaro GK, Ary Nilandari, Fahd Pahdepie, dan masih banyak lagi. Bahkan, di kota ini pula, tepatnya di Unpad, kali pertama dibuka prodi D-3 Editing yang khusus mengajarkan ilmu penerbitan, bahasa, dan sastra di Fakultas Sastra. Saya termasuk alumnusnya.

Di samping Bandung, mencuat nama Jogja. Kota ini sempat mengejutkan dunia perbukuan Indonesia dengan tumbuhnya penerbit dari “gang-gang” kecil dan lahirnya para self-publisher yang dimulai pascakrisis moneter dan reformasi tahun 1998.  Beberapa penerbit Jogja dengan kreativitasnya memberi warna dalam dunia perbukuan nasional, seperti Kanisius, UGM Press, Pustaka Pelajar, Bentang Pustaka, Galang Press, Media Pressindo, Penerbit Andi, LKIS, dan Diva Press.

Di Jogja, aktivitas perbukuan juga semarak dan bertumbuh kembang. Bahkan, pada Februari 2017 di Jogja diselenggarakan MocoSik yaitu festival yang menggabungkan buku dan musik. Festival ini digadang-gadang sebagai festival buku dan musik pertama di Indonesia. Kreativitas anak-anak muda Jogja dalam event perbukuan harus diakui lebih unggul daripada Bandung kini.

Namun, di sisi lain, penerbitan buku di Jogja memberikan catatan buram terhadap persoalan hak cipta yaitu munculnya penerbit beraliran copy left sehingga menimbulkan beberapa kasus pada buku terjemahan. Selain itu, terdapat pula kasus penjiplakan buku laris dengan judul yang hampir mirip dan isi yang juga mirip dilakukan penerbit-penerbit Jogja.

Kiblat dan barometer perbukuan nasional kini mengarah ke Jakarta dengan kekuatan sejumlah grup penerbitan besar sekaligus penerbit bereputasi nasional. Sebut saja seperti Kelompok Kompas Gramedia,  Grup Penebar Swadaya, Grup Agromedia, Grup Erlangga, Grup Bumi Aksara, Yudhistira, Zikrul Hakim, Gema Insani Press, Pustaka Obor, Grup Serambi, dan banyak lagi. Jakarta juga memiliki sejumlah event perbukuan yang diselenggarakan Ikapi Jakarta, Ikapi Pusat, dan komunitas perbukuan lainnya seperti Good Reads Indonesia.

Di luar ketiga kota itu, ada kota-kota di Indonesia yang menggelar event perbukuan internasional, seperti Ubud Writers and Readers Festival, Makassar International Writers Festival, dan Borobudur Writers and Cultural Festival (Magelang). Ketiganya telah rutin diadakan setiap tahun. Namun, di kota seperti Ubud dan Magelang, penerbit buku dan penulis tidak tumbuh signifikan.

Untuk pengecualian dapat disebutkan Makassar karena kota ini mulai bergerak dinamis sebagai kota literasi karena kepedulian pemerintah dan masyarakatnya membangun budaya baca-tulis. Memang penerbit kurang bertumbuh kembang di Makassar, tetapi aktivitas penulisan dan penerbitan secara mandiri (self-publishing) menggeliat, termasuk penerbitan buku-buku lokal. Penulis asal Sulawesi juga mulai banyak yang unjuk gigi di panggung perbukuan nasional.

Jadi, sebuah kota disebut sebagai barometer perbukuan nasional tidak akan sempurna apabila tidak ada keterlibatan semua unsur dalam membangun budaya membaca dan menulis buku, yaitu pemerintah, pelaku perbukuan, perpustakaan, TBM, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Harus ada data dan fakta bagaimana sebuah kota bergerak menjadi kota yang literat. Tentu kita dapat belajar mengapa Accra, Athena, dan Sharjah atau bahkan Bangkok dapat terpilih meraih predikat WBC.

 

Komitmen, Konsistensi, dan Konsentrasi

Tiga kata saja yang diperlukan untuk benar-benar mewujudkan salah satu kota di Indonesia sebagai Kota Buku Sejagat yaitu komitmen, konsistensi, dan konsentrasi. Komitmen tanpa konsistensi tidak akan berarti, pun konsistensi tanpa konsentrasi. Komitmen itu harus bermula dari pemerintah kota dan menjalar kepada pelaku perbukuan, perpustakaan, TBM, lembaga pendidikan, serta masyarakat kota itu. Diperlukan paling tidak waktu 4-5 tahun untuk menargetkan predikat WBC.

Tahun 2017 ini ada momentum nasional yang mendukung ke arah itu. Pertama, Kemendikbud sejak 2016 telah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah dan penghargaan kota adiliterasi. Selayaknya gelar kota adiliterasi tidak sekadar gelar tanpa menunjukkan kemajuan semua unsur terkait seperti disebutkan sebelumnya. Jadi, sebuah kota yang menargetkan mendapat predikat kota adiliterasi dapat juga merancang meraih predikat WBC.

Kedua, Pemerintah telah mengesahkan UU No. 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan sebagai perangkat hukum tertinggi yang mengatur soal perbukuan. Bahkan, saat ini sedang digodok PP dan Permen untuk menjalan UU itu. Sebuah kota yang berambisi mendapatkan predikat WBC harus bersiap mengimplementasikan isi UU tersebut.

Selanjutnya, momentum itu harus dimanfaatkan oleh satu faktor penting yaitu faktor pemimpin. Siapa lagi kalau bukan wali kota yang akan menjadi tokoh sentral WBC. Artinya, sang wali kota haruslah orang yang benar-benar menaruh perhatian terhadap literasi dan perbukuan. Ia harus menghidupkan aktivitas perbukuan terlebih dahulu jika menginginkan kotanya pada tahun 2020, 2021, atau 2022 meraih predikat WBC. Pertanyaannya: apakah ada wali kota yang siap untukhal demikian?

Kita tunggu saja jika memang ambisi meraih predikat World Book Capital itu masih ada. Boleh saja rencana dan ambisi ini juga menjadi “jualan” pilkada. Tapi, ya harus komitmen, konsisten, dan konsentrasi.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!