Misteri Best Seller dan Miskinnya Data Perbukuan

Misteri Best Seller dan Miskinnya Data Perbukuan

Ini menarik, kabar dari negeri jiran kita, Malaysia. Adalah Hafizah Iszahanid yang menuliskan liputannya di BH Online bertajuk “Senarai Buku ‘Best Seller’ Malaysia Tiada Rujukan Data”. Kata ‘senarai’ dapat Anda cek di KKBI Daring edisi V artinya adalah daftar.

Pada awal tulisannya, Puan Hafizah menulis Benarkah petunjuk sesebuah buku laris atau tidak di pasaran bergantung pada tiga bulan pertama selepas penerbitannya? Sejauh mana pula kebenaran senarai buku ‘laku keras’ yang dikeluarkan setiap minggu? Malah, benarkah hanya novel cinta yang mampu terjual di negara ini (Malaysia)?

Klaim best seller itu untuk kasus Malaysia dan juga di Indonesia memang seperti misteri alias tidak jelas. Dagelan yang sering mengusik kalbu adalah ketika buku cetakan pertama sudah dilabeli best seller di kovernya. Artinya, penerbit dan penulis sungguh sakti dapat meramalkan buku itu bakal best seller atau itu sebentuk pembohongan bagi publik pembaca yang dikecoh dengan gelar mentereng itu.

Jadi, kalau ditanya apa basis data sebuah buku dinyatakan best seller oleh penerbit atau bahkan penulisnya di Indonesia, jawabannya tidak jelas. Hal ini tentu saja berbeda dengan di negara-negara maju, seperti AS atau Inggris yang memiliki lembaga pemeringkatan penjualan buku tepercaya, sebut saja media seperti New York Times dan Publisher Weekly.

Bahkan, pemeringkatan best seller sebuah buku dilakukan dengan sangat ketat. Jika seorang penulis diketahui membeli bukunya sendiri agar masuk peringkat best seller, buku tersebut alamat akan didegradasi dari senarai best seller dan penulisnya masuk ke dalam daftar hitam.

Tentu saja harus ada indikator-indikator yang mengesahkan sebuah buku disebut buku sangat laris dan pencetak hit. Pertama, adalah jumlah eksemplar terjual dalam rentang waktu tertentu, misalnya 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Kedua, adalah indikator jumlah cetak ulang dalam rentang waktu tertentu pula.

Satu lagi saya kira yang termasuk ukuran jika buku hendak digolongkan best seller adalah seberapa besar angka penjualan itu memberikan keuntungan signifikan bagi penerbit dan penghasilan royalti bagi penulis. Sebagai contoh buku saya berjudul 200+ Solusi Editing yang diterbitkan Bumi Aksara dijual dengan harga Rp119.000. Cetakan pertama buku tersebut adalah 3.000 eksemplar. Jika asumsi semuanya laku terjual dalam setahun, saya mendapatkan royalti Rp35.700.000.

Jumlah royalti Rp35.700.000 itu kalau saya bagi 12 bulan, akan diperoleh penghasilan Rp2.975.000. Masih di bawah UMP DKI Jakarta. Jadi, angka penjualan 3.000 eksemplar dalam setahun jelas bukan angka best seller.

Bagaimana kalau 10.000 eksemplar? Royalti saya berubah menjadi Rp119.000.000. Asumsi pendapatan per bulan adalah Rp9,9 juta. Angka ini masih pada tataran lumayan, belum merupakan penghasilan yang “wah” bagi seorang penulis. Jadi, angka penjualan 10.000 eksemplar pun belum dapat dikatakan best seller.

Paling tidak kalau pendapatan royalti penulis sudah menyentuh Rp1 M dari satu judul buku selama penjualan setahun, bolehlah menjadi dasar ia mengklaim bukunya best seller. Angka penjualan buku >1 juta eksemplar di negara-negara maju sering menjadi dasar mengganjari sebuah buku dengan sebutan mega-best seller.

Di jejaring toko buku besar, kita juga dapat melihat buku-buku yang masuk kategori best seller atau buku rekomendasi. Namun, pengunjung awam atau kita pembaca awam tidak terlalu paham apa dasar pemeringkatan best seller tersebut. Informasi yang saya terima bahwa toko buku melihat laju penjualan buku sejak masuk selama tiga bulan pertama. Pada jumlah eksemplar tertentu yang berhasil dilampaui buku tersebut maka ia berhak mendapatkan predikat best seller.

Tentu pola pemeringkatan seperti ini rentan dengan praktik “mengakali” yang dapat saja dilakukan oleh oknum penerbit atau penulis karena tidak adanya pengawasan khusus. Penulis yang ingin bukunya mejeng di rak best seller dapat mengarahkan pembelian atau melakukan pembelian sendiri di jejaring toko buku tersebut.

Tidak ada cara lain bahwa memang harus ada lembaga riset atau survei tepercaya yang mendata dan melakukan pengawasan untuk benar-benar memberikan gelar best seller secara tepat, bukan sekadar klaim.

Pada gelaran Indonesia International Book Fair September lalu di Jakarta, Nielsen BookScan diperkenalkan sebagai lembaga yang akan melakukan riset terhadap industri perbukuan, termasuk penjualan buku. Kiprah Nielsen BookScan sangat bergantung pada kerja sama yang baik antara penerbit, distributor, toko buku, dan juga Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Kita memang sudah sering mendengar betapa miskinnya data perbukuan di negara ini. Hal ini juga disebabkan memang tidak adanya lembaga yang berkonsentrasi terhadap riset-riset perbukuan. Bagaimanapun keberadaan data yang valid akan mendorong pertumbuhan dan perkembangan sebuah industri. Tanpa data, industri tidak dapat berbuat banyak untuk menetapkan strategi pertumbuhan.

 

Baca Juga: Buat Apa Sertifikasi Penulis dan Editor

 

Saya sendiri sebagai pelaku di industri perbukuan kerap ditanya persoalan data ini. Saya hanya mampu menjawab sekenanya tanpa benar-benar ada data yang valid diperoleh berdasarkan riset atau survei. Paling-paling saya hanya melakukan studi pustaka sendiri untuk mengumpulkan semacam data perbandingan dari negara lain.

Pada tahun 2015, dengan biaya Ikapi, saya memimpin penyusunan buku bertajuk Industri Penerbitan Buku Indonesia: Dalam Data dan Fakta. Dengan dana minim dan memanfaatkan sumber data yang tersedia, terutama dari Perpustakaan Nasional RI dan Ikapi, diperolehlah sejumlah data primer industri penerbitan buku. Namun, data mendalam dan lebih variatif tidak dapat dikumpulkan, seperti berapa jumlah penerbitan buku anak di Indonesia, berapa jumlah penerbit buku anak di Indonesia, atau berapa jumlah penulis buku anak di Indonesia.

Saya kira dengan adanya UU No. 3/2017 tentang Sistem Perbukuan kini yang juga sedang disusun RPP-nya akan menjadi momentum dilakukannya riset perbukuan yang komprehensif, termasuk bekerja sama dengan Nielsen BookScan. Pemerintah tentu berkepentingan dengan data ini, apalagi lembaga seperti Bekraf dan Kemendikbud.

Karena itu, sudah selayaknya misteri diungkap biar tidak ada best seler-best seller-an lagi yang mengecoh para pembaca Indonesia. Apalagi, penyelenggaraan pelatihan penulisan buku best seller yang diisi para penulis dengan predikat best seller tidak jelas. Hidup kita ini sudah terlalu sering dilingkupi “kelucuan” yang tidak lucu.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!