0 item in the bag

No products in the cart.

Peribahasa, Warisan Literasi yang Terlupakan

Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Apakah Anda masih mengenali peribahasa itu? Apa maknanya? Jika Anda masih ingat maknanya, berarti Anda belum lepas dari kearifan literasi bangsa ini.

Apalagi, peribahasa yang satu ini: Sambil menyelam minum air. Peribahasa itu menurut saya sangat relevan dan kekinian untuk menggambarkan kegiatan multitasking.

Lalu, bagaimana dengan peribahasa yang satu ini: Alah bisa karena biasa? Banyak orang salah mengartikan peribahasa ini karena kata ‘bisa’ disamakan dengan ‘dapat’. Lalu, muncul pemaknaan berikut: sebuah kebisaan atau kemampuan akan diperoleh jika sudah terbiasa melakukannya. Keliru!

Itu pula yang saya temukan pada sebuah buku kumpulan peribahasa dalam Program Penilaian Buku Nonteks Pelajaran, Puskurbuk, Kemendikbud. Saya merasa penyusun buku tersebut tidak melakukan riset mendalam soal peribahasa dari maknanya kata per kata serta arti kiasan yang dikandungnya. Bahkan, mungkin juga memang tidak mengerti peribahasa, tetapi memaksakan diri menyusunnya.

Hal ini sangat berbeda dengan uraian pakar bahasa Indonesia, Jus Badudu, dalam bukunya Kamus Peribahasa (2009) yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Makna sebenarnya peribahasa tersebut adalah suatu kebiasaan buruk yang dipupuk/dilakukan terus-menerus maka lama-kelamaan keburukan tersebut tidak terasa lagi. Jadi, kata ‘alah’ sama dengan ‘kalah’ (lawan ‘menang’) dan kata ‘bisa’ di situ adalah ‘racun binatang’. Ibaratnya seseorang yang terlalu sering digigit binatang berbisa, lama-kelamaan ia akan kebal terhadap bisa tersebut. Peribahasa ini lebih pas jika digunakan untuk menyebut para pengguna narkoba ataupun koruptor yang tidak pernah jera melakukan keburukan.

Begitulah peribahasa sebagai salah satu kekayaan literasi kita mulai terlupakan, bahkan maknanya menjadi keliru karena kita sendiri juga melupakan arti kosakata bahasa Indonesia yang sangat kaya. Banyak kata dalam peribahasa telah berstatus arkais—tidak lazim dipakai lagi atau sudah kuno.  Contohnya, kata ‘sepah’ pada peribahasa “habis manis sepah dibuang”, saya yakin anak-anak sekarang sudah tidak tahu lagi makna ‘sepah’ yang berarti ‘ampas’. Bahkan, kata ‘ampas’ juga boleh jadi tetap terdengar asing.

Definisi peribahasa menurut Pak Badudu adalah semua bahasa, baik kata ataupun frasa (kelompok kata) yang mengandung arti kiasan. Di dalam Wikipedia, peribahasa atau disebut juga pepatah didefinisikan ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung aturan dasar dalam berperilaku. Jika peribahasa berupa ungkapan yang sangat baik maka disebut dengan istilah aforisme. Jadi, peribahasa, pepatah, ungkapan, dan idiom itu sama saja, masih satu “kerabat”.

 

Peribahasa sebagai Ujaran Keseharian

Masyarakat pada zaman dahulu kerap menyampaikan maksud atau komentarnya melalui peribahasa. Hal ini berkembang di banyak daerah di Indonesia. Contohnya, dalam tuturan masyarakat Minang kini, kita masih dapat menemukan penggunaan peribahasa dan ungkapan. Begitu juga di dalam tuturan masyarakat Jawa dan Sunda, ungkapan atau peribahasa juga mengayakan komunikasi sehari-hari.

Sejatinya Indonesia memiliki kekayaan literasi peribahasa yang sangat kaya. Namun, seiring zaman dan ada persoalan dalam penguatan daya literasi, terutama pada generasi muda, penggunaan peribahasa semakin jarang. Alhasil, peribahasa yang sangat banyak itu maknanya tidak lagi diketahui. Bahkan, saya pernah menemukan sebuah kamus peribahasa malah memuat makna yang salah.

 

Baca Juga: Amankah Cerita Rakyat untuk Anak?

 

Beruntunglah kita kini masih mendapatkan warisan dari Pak Jus Badudu berupa buku yang memuat peribahasa dan artinya secara lengkap. Pak Badudu menjelaskan makna kata per kata terlebih dahulu, lalu menjelaskan makna kiasan dari peribahasa tersebut. Alhasil, pembaca juga diperkenalkan dengan kata-kata arkais.

Apakah penggunaan peribahasa itu ciri kekunoan yang tidak relevan lagi apabila digunakan pada konteks kekinian? Saya sependapat dengan Pak Badudu bahwa peribahasa masih perlu dikuasai pada zaman kini karena peribahasa menjadikan bahasa lebih hidup dan indah serta menimbulkan suatu keunikan. Tidak ada hubungan antara penggunaan peribahasa dengan predikat kuno atau ketinggalan zaman bagi penggunanya.

Sebenarnya, di antara kita tanpa disadari masih menggunakan peribahasa dalam tutur bahasa sehari-hari, seperti bukti hitam di atas putih, diseret ke meja hijau, berotak udang, menangani masalah, atau menjadi kambing hitam. Semua itu adalah ungkapan yang tidak merujuk pada makna kata sebenarnya (denotasi), tetapi kita sudah TST alias tahu sama tahu.

Tidak hanya di dalam bahasa Indonesia, di dalam bahasa asing pun terkandung peribahasa atau ungkapan/idiom. Seorang penerjemah yang bersua dengan ungkapan-ungkapan tentu harus jeli untuk tidak menerjemahkan kata per kata karena artinya jelas berbeda. Google Translate sebagai aplikasi penerjemahan juga telah mengadopsi ungkapan/idiom ini. Coba saja Anda ketikkan kata ‘feeling blue’, Anda akan mendapatkan makna ‘merasa sedih’ bukan ‘merasa biru’.

 

Melestarikan Peribahasa

Bagaimana peribahasa sebagai kekayaan literasi kita ini dapat lestari? Tidak ada cara lain selain mengenalkannya sejak dini kepada anak-anak mulai pendidikan dasar. Pelajaran peribahasa dapat diselipkan dalam pelajaran bahasa Indonesia dengan suatu kreativitas sehingga menjadi menarik. Misalnya, dua kelompok siswa diminta untuk menghafalkan 20 peribahasa. Kemudian, dua kelompok itu ditandingkan untuk menyebutkan peribahasa dan menjelaskan maknanya. Kelas akan menjadi lebih hidup.

Begitupun dalam pelajaran mengarang, guru dapat mendorong siswa untuk mengarang cerita berdasarkan peribahasa. Lebih dahulu guru menjelaskan makna setiap kata di dalam peribahasa, lalu dilanjutkan dengan penjelasan makna dari peribahasa itu. Dengan demikian, para siswa/murid pun dirangsang untuk berimajinasi dengan peribahasa itu. Pilihkan tiga atau lima peribahasa sehingga setiap siswa dapat memilih peribahasa yang paling disukainya atau yang menurutnya menarik untuk dibuat cerita.

Secara tidak langsung, pemelajaran peribahasa ini juga dapat menjadi media pendidikan karakter karena berisikan nasihat-nasihat kehidupan. Segala peristiwa dan fenomena sehari-hari dalam kehidupan kita dapat diungkapkan ke dalam peribahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Dengan demikian, keseringan penggunaan tentu akan kembali mengakrabkan peribahasa dalam komunikasi sehari-hari anak-anak kita ibarat “tak kenal maka tak sayang”. Warisan literasi ini pun bakal menjadi kekayaan yang tetap terjaga, bahkan pada era digital kini.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!