0 item in the bag

No products in the cart.

Serius Menulis Buku Tidak Serius

Saya masih ingat sebuah acara sekira tujuh belas tahun lalu. Acara itu digelar oleh Yayasan Adikarya Ikapi dan Ford Foundation menghadirkan Haidar Bagir dan Bondan Winarno. Tema acara tentang “buku serius” yang kala itu berkaitan dengan Program Pustaka Adikarya Ikapi-Ford Foundation. Ford Foundation menggelontorkan dana hibah untuk mendorong penerbitan buku-buku hasil penelitian—yang disebut buku serius itu—melalui Yayasan Adikarya Ikapi.

Secara bercanda, Bondan mengkritik tema diskusi kali itu tentang “buku serius”. Menurutnya, menulis buku itu saja sudah serius, bagaimana mungkin ada buku tidak serius?

Mungkin penyelenggara berpikir bahwa buku-buku yang dihasilkan dari penelitian atau riset itu memang serius. Lalu, yang diteliti itu pastilah hal-hal yang serius walaupun pada kenyataannya tidak selalu demikian.

Seseorang dapat saja menulis topik-topik ringan, tetapi dengan riset yang serius. Seperti itulah yang seharusnya dilakukan seorang penulis profesional. Jadi, tidak lantas karena menulis “buku bertopik tidak serius”, penulisan pun dilakukan apa adanya atau sekadarnya.

Seorang direktur penerbit dari Yogya dalam sebuah seminar editing pernah mengatakan, “Saat ini di Indonesia kaya buku, tetapi miskin ide.” Artinya, banyak sekali buku yang terbit, tetapi monoton karena isinya sama saja.

Saya membenarkan ungkapan itu. Data buku yang diurus ISBN-nya tahun 2015 dalam versi Perpusnas RI sekira 42.000 judul buku. Lalu, Ikapi menginformasikan paling tidak di Indonesia kini terbit sekira 30.000 judul buku setahun. Angka tersebut termasuk besar meski masih kecil jika dibandingkan jumlah penduduk Indonesia. Setiap bulan ada saja buku baru yang memenuhi rak toko buku.

Namun, perhatikanlah bahwa banyak buku bertopik sama dan ditulis dengan hampir tiada bedanya, terutama buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Gejala sama secara tidak sengaja ini kemudian dimanfaatkan oknum penulis dan penerbit tertentu untuk melakukan penjiplakan buku-buku laris dengan kover dan judul yang mirip, bahkan ada buku yang kontennya dijiplak mentah-mentah beberapa halaman. Tentu hal ini memprihatinkan dari sisi penghormatan terhadap jerih payah orang lain yang telah menggagas dan melakukan riset dalam penulisan bukunya.

Para plagiator itu memanfaatkan modus buku-buku bertopik sama sebagai kamuflase plagiat yang mereka lakukan. Masyarakat pembaca kita yang tidak terlalu jeli akan terkecoh dengan harga yang murah dengan pertimbangan bukunya sama saja.

 

RISET PENULISAN BUKU

Penulisan buku atau karya tulis apa pun pasti bermula dari ide atau gagasan. Tidak semua ide dapat dieksekusi jika dikaitkan dengan riset mendalam. Terkadang penulis terbentur oleh biaya ketika ia harus melakukan riset dengan mengunjungi tempat yang jauh sehingga memerlukan transportasi dan akomodasi yang mahal.

Riset menggunakan beberapa metodologi yang tersedia dan juga beberapa teknik pengumpulan data. Karena itu, lebih mudah bagi seorang penulis apabila ia sekaligus seorang peneliti. Jika ia mendapatkan tugas penelitian, ia dapat menggabungkan kegiatannya dengan penulisan buku berbasis penelitian.

Para penulis buku karena alasan waktu ataupun biaya, kerap menggunakan riset pustaka atau bahan bacaan yang dapat terdiri atas buku, media berkala, media elektronik, atau media daring. Ada yang berupa tinjauan pustaka dan ada pula yang berupa studi pustaka. Riset pustaka semacam ini dianggap paling murah dan mudah.

Wahyu Wibowo—seorang pakar bahasa dan penulisan ilmiah—membedakan antara tinjauan pustaka dan studi pustaka. Menurutnya, tinjauan pustaka lebih rendah levelnya daripada studi pustaka.

Di dalam karya tulis ilmiah seperti artikel junal, penulis hanya dapat menyajikan tinjauan pustaka karena ruang penulisan yang terbatas. Tinjauan pustaka disajikan dengan mengangkat teori-teori yang relevan untuk mendukung gagasan penulis terhadap permasalahan yang diajukannya. Biasanya hanya berupa kumpulan kutipan teori.

Berbeda halnya pada karya tulis ilmiah yang ruangnya tersedia leluasa, seperti skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian. Penulis dapat menggunakan studi pustaka yaitu menyajikan teori atau temuan dari bahan bacaan, kemudian menganalisisnya sehingga terdapat benang merah antara gagasan dan permasalahanan yang diangkat penulis serta solusi yang ditawarkan.

Dalam konteks riset pustaka untuk menulis buku maka seorang penulis dapat melakukan keduanya yaitu berupa tinjauan pustaka atau studi pustaka. Lalu, bagaimana kalau ada seorang penulis buku yang menulis tanpa menggunakan rujukan pustaka sama sekali alias tidak ada daftar rujukan atau daftar pustakanya? Rasa-rasanya untuk kasus buku nonfiksi meskipun bukan buku serius, hal itu tidak mungkin. Gagasan seorang penulis buku memerlukan dukungan gagasan orang lain sebelumnya atau juga perbandingan, kecuali buku itu benar-benar ditulisnya sebagai hasil refleksi (perenungan) dirinya karena mendapatkan ilham langsung dari langit.

Riset-riset lain dalam penulisan buku dapat dilakukan melalui pengamatan, wawancara narasumber, survei, atau percobaan. Bayangkan saja seseorang yang hendak menulis buku resep masakan. Bagaimana mungkin pembaca dapat percaya pada orang itu jika ia sama sekali tidak pernah melakukan percobaan menguji resep-resep itu?

 

MENGUJI KESERIUSAN PENULIS

Jadi, untuk melihat apakah sebuah buku, terutama nonfiksi, ditulis dengan serius atau tidak, Anda dapat melakukan hal-hal berikut. Pertama, cek daftar isi buku apakah sudah mengandung informasi yang sistematis, lengkap, dan tuntas. Anda boleh mengetes membaca bab I buku atau memilihnya secara acak.

Kedua, ceklah daftar pustaka buku apakah penulis menggunakan bahan bacaan yang tepercaya sebagai rujukannya? Waspadai buku yang sebagian besar menggunakan sumber internet, besar kemungkinan sumber-sumber itu dijadikan bahan copy paste. Perlu pertimbangan juga dari pembaca jika penulis hanya menyajikan bahan rujukan yang minim, misalnya hanya terdapat 2-3 pustaka. Kebaruan bahan bacaan/pustaka juga harus menjadi pertimbangan jika topik buku merupakan topik yang aktual berkaitan dengan tren dan fenomena, kecuali tentunya buku sejarah.

Ketiga, jika Anda sudah mendapatkan kesan keseriusan dari daftar isi dan daftar pustaka, mulailah menganalisis konten yang disajikan penulis yaitu apakah ada gagasan baru yang ditawarkan penulis untuk mengatasi permasalahan yang diangkatnya? Jika tidak ada dan sama saja dengan buku lainnya, itu tanda penulis tidak serius menulis atau tidak menguasai permasalahan dengan baik. Ia hanya menulis karena merasa mampu menulis sehingga terjebak pada euforia penulisan buku untuk meraih pengakuan dan ketenaran melalui buku. Sementara itu, buku yang ditulisnya tidak memberi informasi baru atau tidak memberi efek apa pun.

 

PEKERJAAN SERIUS

Saya jelas setuju dengan ungkapan Bondan Winarno bahwa menulis buku itu adalah pekerjaan serius. Saya ambil contoh buku anak. Masih banyak yang menganggap bahwa menulis buku anak itu pekerjaan ringan dan sepele. Alhasil, banyak juga yang merasa mampu menulis buku anak tanpa perlu belajar dan berlatih.

Tidak heran jika banyak juga terbit buku anak yang digarap tidak serius sehingga tidak disukai anak dan dijejali nasihat-nasihat membosankan produksi alam pikiran orang dewasa. Unsur-unsur buku anak pun terabaikan, seperti plot (dalam cerita anak), diksi (pilihan kata), ilustrasi, keterbacaan, dan kemenarikan.

Pangkalnya karena orang-orang dewasa yang menulis buku anak itu tidak serius melakukan riset terhadap anak-anak dan dunianya. Mereka pikir karena mereka pernah menjadi anak-anak maka sama saja apa yang mereka alami dulu dengan apa yang dialami anak-anak sekarang. Alhasil, mereka menulis dengan persepsi dan alam pikirannya sebagai orang dewasa tanpa mau berpayah-payah menyelidiki apa sebenarnya yang dihadapi anak-anak kini, apa yang mereka sukai, dan bagaimana anak-anak itu menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi sehari-hari.

Selain buku anak, banyak lagi topik-topik ringan yang juga memerlukan keseriusan menggarapnya. Contohnya, jika ada seseorang ingin menulis teknik memanjat pohon, tentulah ia memang seseorang yang terlatih untuk memanjat berbagai pohon. Lalu, mulailah ia melakukan riset terhadap dirinya sendiri dan orang lain tentang berbagai teknik dan langkah-langkah memanjat pohon agar terhindar dari kegagalan sekaligus kecelakaan.

Anda lihat sebuah buku yang sepertinya terkesan tidak serius, tetapi jika ditulis dengan keseriusan berbasis riset, hasilnya tentu akan berbeda. Anda sebagai pembaca akan tercengang dibuatnya karena penulis benar-benar memberikan perspektif baru kepada pembacanya tentang suatu hal yang dianggap persoalan remeh.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!