Tol Literasi Setelah Perpustakaan Tertinggi

Tol Literasi Setelah Perpustakaan Tertinggi

Luar biasa Indonesia kini memiliki infrastruktur perpustakaan tertinggi di dunia. Bangunan 24 lantai kini menjulang di Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11 menghadap ke Monumen Nasional. Itulah Perpustakaan Nasional yang sebelumnya berada di Jalan Salemba dan kini berpindah ke jantung Jakarta. Menurut M. Syarif Bando, Kepala Perpusnas RI, pembangunan gedung ini menelan biaya Rp465 M dengan berbagai fasilitas unggul di dalamnya.

Saya jadi ingat kembali pada riset Central Connecticut State Univeristy (CCSU) yang menempatkan Indonesia pada peringkat 60 dari 61 negara paling literat di dunia setelah mempertimbangkan lima variabel pemeringkatan. Dalam variabel infrastruktur membaca, Indonesia ternyata menempati peringkat ke-36—lebih baik daripada Korea Selatan, Malaysia, Jerman, Belanda, dan Singapura. Adapun lima besar negara dengan infrastruktur perpustakaan terbaik adalah Estonia, Latvia, Norwegia, Islandia, dan Polandia.

Artinya, di negeri ini perpustakaan dan TBM-TBM sudah sangat banyak. Tambahan lagi, ada gedung Perpusnas RI yang megah dan tertinggi di dunia serta memiliki koleksi 2,6 juta buku. Jelas saja muncul pernyataan bahwa ternyata infrastruktur perpustakaan yang cukup itu tidak menjamin peningkatan minat membaca dan minat menulis masyarakat.

Lalu, saya mencoba menghubungkan dengan riuh dunia buku beberapa minggu ini karena soal pajak perbukuan hingga menjadi perhatian publik dan dunia pers. Sayang meskipun sempat mengacungkan tangan hendak bertanya dan berkomentar saat pertemuan dengan Menkeu Sri Mulyani pada acara Dialog Perpajakan bagi Penulis dan Pekerja Seni (13/9), saya tidak mendapatkan kesempatan. Jadi, saya tumpahkan saja ganjalan itu di sini.

 

TAK SOAL ADANYA PAJAK

Menurut saya soal pajak penghasilan penulis itu sudah cukup jelas. Tinggal menunggu kebijakan Menkeu dan Ditjen Pajak untuk tidak menggolongkan royalti sebagai penghasilan tetap penulis. Jika pun persentasenya hendak dikurangi, patut disyukuri untuk mendorong gairah di dunia penulisan. Namun, satu faktor soal penerbit yang memotong pajak juga perlu dicermati.

Penerbit harus berkomitmen melaporkan pendapatan royalti sebagaimana mestinya, memotong pajak sebagaimana mestinya, dan memberikan laporannya kepada penulis. Hal ini sudah cukup jelas diatur di dalam UU No. 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Penerbit tidak boleh menambah “sengsara” penulis dengan laporan penjualan yang tidak jelas, lalu pemotongan pajak yang juga tidak jelas.

Kemudian, dari sisi penerbit ada juga masalah PPn buku yang masih nanggung bahwa hanya buku pendidikan, buku agama, dan kitab suci yang dibebaskan PPn-nya. Adapun buku lainnya masih terkena pajak. Kriteria buku pendidikan itu pun sebenarnya belum jelas karena apakah ada buku yang memang tidak mendidik? Kalau tidak mendidik, mengapa boleh diterbitkan dan diedarkan? Sebaiknya, pemerintah perlu mempertimbangkan penghapusan PPn segala jenis buku.

 

Baca Juga: Benarkah Literasi Dapat Menangkal Hoaks?

 

Namun, menyatakan bahwa penghapusan PPn buku akan berpengaruh pada harga buku juga menurut saya kecil sekali relevansinya. Komponen fisik buku yang paling berpengaruh terhadap harga buku adalah kertas—kalau kita bicara soal buku kertas. Seharusnya yang perlu dijamin dan disubsidi oleh pemerintah adalah ketersediaan kertas untuk buku demi mewujudkan buku murah meskipun buku murah bukan semata soal fisiknya.

Selain komponen fisik, sebuah buku menjadi bernilai karena faktor kontennya sehingga harganya tidak dapat ditentukan dari segi fisik saja. Mungkin saja ada buku yang tipis, tetapi mahal karena kontennya memang bermutu. Itulah mengapa gagasan seorang penulis yang dituangkannya ke dalam tulisan melalui proses bernama riset itu sungguh berharga sebagai aset tidak ternilai (intangible).

Jadi, penghapusan PPn buku pastinya berkorelasi pada pendapatan penerbit. Jika pendapatan penerbit bertambah, tentu modalnya juga bertambah yang memungkinkan penerbit dapat bertumbuh menerbitkan judul-judul baru. Kemeriahan dunia perbukuan sejatinya ditentukan oleh judul-judul buku baru, apalagi buku-buku yang bermutu.

 

MENDORONG VITALITAS BUDAYA

Bagaimanapun kehadiran negara dan sentuhan pemerintah sangat diperlukan untuk membangun vitalitas budaya melalui buku atau perbukuan. Tidak perlu lagi mencari-cari dasar hukum karena Pasal 35 ayat (1)d UU Sistem Perbukuan No. 3 Tahun 2017 telah menegaskan bahwa “Pemerintah berwenang memberikan insentif fiskal untuk pengembangan perbukuan”. Karena itu, Menkeu Sri Mulyani memiliki momentum itu.

Sah-sah saja pemerintah tetap memungut pajak perbukuan, tetapi pemerintah juga harus mengalokasikan pendapatan tersebut pada pengembangan perbukuan yang lebih strategis. Perpustakaan dan infrastrukturnya penting, tetapi lebih penting membangun infrastruktur intelektual pada pelaku-pelaku perbukuan. Ambil saja satu contoh bagaimana pemerintah dapat membangun perguruan tinggi ilmu penerbitan seperti pernah diamanatkan di dalam hasil Kongres Perbukuan Nasional I tahun 1995.

Saat ini hanya ada satu perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan penerbitan yaitu Prodi Penerbitan di Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) yang baru setingkat D-3. Di universitas-universitas ternama di Indonesia tidak ada program studi ini. Apakah program studi ini tidak diperlukan oleh dunia kerja? Oh, mustahil. Tidak ada satu bidang pun di dunia ini dapat lepas dari urusan penulisan, penyuntingan, dan penerbitan selama bidang itu masih memerlukan publikasi yang bermutu.

Saya ambil contoh saja bagaimana semua lembaga negara ada program menerbitkan buku. Boleh dikatakan penerbitan buku-buku resmi (official book) pemerintah itu terkadang kurang terjaga dari sisi mutu. Kebanyakan sering hanya sebuah euforia hendak mendukung literasi melalui penerbitan buku, tetapi hasilnya sama sekali jauh dari yang disebut bermutu. Alhasil, buku-buku tersebut menjadi mubazir karena dikerjakan bukan oleh para pelaku perbukuan yang benar-benar memahami buku—memang di satu sisi belum ada sertifikasi untuk pelaku perbukuan.

 

PROGRAM TOL LITERASI

Pemerintah harus mendorong lahirnya artisan-artisan pelaku perbukuan sebagai penopang industri kreatif perbukuan. Karena itu, pembangunan infrastruktur intelektual melalui pendidikan dan pelatihan jauh lebih penting, termasuk memberikan “panggung” bagi para penulis, editor, ilustrator, dan desainer buku di Indonesia untuk tampil di pentas dunia.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah riset literasi. Kita tidak dapat membuat sebuah grand design literasi bangsa ini tanpa berbasis riset. Setiap kali muncul persoalan perbukuan maka dunia pers pasti menanyakan data dan data itu sama sekali tidak tersedia. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Karena itu, persoalan dunia perbukuan kita boleh dibilang berputar di situ-situ saja seperti lingkaran setan selama hampir lima dekade—pajak, tata niaga, dan tata kendali mutu.

Alhasil, semoga pemerintah dengan dukungan Presiden tentunya berpikir juga untuk mewujudkan “tol literasi”. Lebih mudah saya kira menyebut tol literasi sebagai kiasan untuk menyodet lingkaran setan perbukuan yang berputar-putar. Berikan jalan keluar bagi dunia perbukuan sebagai penopang keliterasian untuk melesat.

Kita memang tidak boleh terjebak pada persoalan-persoalan parsial yang menyedot energi ataupun yang bersifat seremoni sehingga semua orang merayakan literasi, tetapi melupakan persoalan hakiki. Tidak akan muncul minat membaca tanpa tersedianya buku yang diminati alias layak dibaca. Tidak akan muncul buku yang diminati atau layak dibaca tanpa adanya kerja-kerja kreatif para pelaku perbukuan yang bebas ceria. Karena itu, tidak akan ada minat membaca dan minat menulis ketika para pelaku perbukuan tidak diberi tiket untuk melesat di jalur tol literasi. Sekian.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!