0 item in the bag

No products in the cart.

Tulisan sebagai Oleh-oleh Intelektual

Dahulu masih awal tahun 1990-an, saya beberapa kali mudik dari Bandung ke Medan menggunakan angkutan bus. Kala itu mudik dengan pesawat masih menjadi sebuah kemewahan. Dengan bus waktu tempuhnya mencapai tiga hari tiga malam. Apalagi, bus harus menyeberang antarpulau dari Merak ke Bakauheni dengan kapal ferry. Antreannya lumayan lama kala itu.

Pernah juga suatu kali saya mudik menggunakan kapal laut bersama istri melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Waktu tempuhnya sekira dua hari dua malam dengan persinggahan sebentar di Pelabuhan Batam, lalu kemudian merapat di Pelabuhan Belawan. Hanya sekali seumur hidup saya mudik dengan kapal laut itu karena merasa kurang nyaman dan monoton melihat laut. Baru saja naik kapal laut, sandal sepatu saya yang baru dibeli buat lebaran sudah digondol maling. Pengalaman yang tidak terlupakan.

Berhari-hari mudik itu tentu menyisakan banyak cerita menarik untuk dituliskan, apalagi melalui perjalanan darat melewati beberapa provinsi dengan pemandangan yang khas.

Sayangnya dahulu semasa kuliah dan mudik dengan angkutan darat itu, saya tidak terpikirkan untuk menuliskannya. Bagi saya pengalaman itu untuk dinikmati saja, lalu disimpan di pikiran dan kemudian sekarang hanya menjadi kenangan. Namun, saya tetap merasa beruntung sebagai bagian masyarakat yang ikut merasakan mudik ke kampung halaman meskipun saya tidak ingat lagi itu halaman berapa …. Hehehe.

Mudik dengan bus saking lamanya perjalanan, antarpenumpang bus dapat saling mengenal serta terjadi ikatan silaturahim karena merasa senasib. Suatu ketika bus yang saya tumpangi mengalami kecelakaan di daerah Lahat, Sumatra Selatan. Waktu itu tengah malam. Sopir bus mengantuk sehingga menabrak palang kereta api di pinggir jalan. Kontan saja kaca depan bus hancur.

Para penumpang bahu-membahu saling menyelamatkan. Untungnya tidak ada penumpang yang cedera serius. Karena berada di wilayah sepi, tak ada juga penduduk yang menolong. Akhirnya, perjalanan bus terus dilanjutkan dengan penggantian sopir. Kaca depan yang hancur hanya ditutupi dengan plastik dan selotip seadanya sampai ke Medan. Sungguh pengalaman yang mendebarkan.

Suka duka mudik ini pastilah banyak dialami para pemudik, apalagi mereka yang menempuh perjalanan jauh dan lama. Sekarang pengalaman itu dapat dengan mudahnya direkam lewat video hp, voice recorder, dan ditambah dengan foto-foto.

Ada banyak pengalaman yang dapat dituliskan: pengalaman terjebak macet, pengalaman menegangkan melihat kecelakaan atau mengalami kecelakaan (seperti saya), pengalaman menyantap kuliner, pengalaman bertemu dengan teman lama, pengalaman bertemu dengan orang baru, atau pengalaman menikmati suasana kampung halaman yang sudah banyak berubah.

Ada sesuatu yang dituliskan dan dibagikan tentu menjadi kebiasaan yang baik, apalagi jika mengisahkan keunikan-keunikan yang masih tersisa di kampung halaman.

Dulu di tempat kelahiran saya di Tebingtinggi Deli (Sumatra Utara) ada kebiasaan unik yang dilakukan anak-anak dan remaja saat lebaran. Lebaran disambut dengan acara raon-raon (keliling kota) dengan becak dayung (becak sepeda). Becak disewa dengan hitungan jam. Lalu, beberapa orang naik memenuhi setiap sudut becak yang dapat diduduki.

 

Baca juga: 7 Alasan untuk Self-Publishing

 

Hal yang unik lagi, anak-anak yang naik becak itu membawa pistol air. Bukan hanya air biasa yang diisi, melainkan air dengan pewarna makanan (gincu), bahkan diusahakan tidak bisa hilang. Kenakalan yang menggembirakan karena banyak baju baru yang menjadi korban air bergincu itu.

Beberapa anak yang sudah siap perang bersepakat memakai baju biasa atau bertelanjang dada. Ada kenakalan yang tidak termaafkan dan dianggap melanggar “kode etik” kala itu ketika air yang ditembakkan (maaf) dicampur air kencing.

Jadi, aneka mainan pistol air di Tebingtinggi itu menjadi laris. Di kota-kota lain, seperti Medan, tidak ada “ritual” perang seperti ini. Namun, saya tidak tahu lagi apakah tradisi lebaran di Kota Lemang (julukan untuk kota Tebingtinggi) ini masih ada atau sudah punah.

Sebuah tradisi yang kita saksikan hanya saat mudik di kampung halaman mungkin saja masih bertahan atau mungkin saja sudah punah melewati tiga generasi. Yang tertinggal biasanya hanya kenangan dan syukur-syukur itu dituliskan sehingga lebih menguatkan ingatan. Karena itu, tuliskanlah kenangan saat mudik itu sebagai 0leh-oleh intelektual dan tinggalkan jejaknya secara digital karena siapa tahu ada generasi setelah kita yang membacanya dan membuat mereka mengenal sejarah kampung halamannya.[]

Leave a Reply

shares
INGIN BISA MENULIS BUKU?

INGIN BISA MENULIS BUKU?

Secara rutin, tim Nulix.id akan mengirimkan tip dan trik cara menulis buku yang baik dan benar. Anda cukup memasukkan alamat email ke dalam form di bawah ini. Tenang, kami adalah para profesional. Kami tidak akan menggunakan data Anda sembarangan.

You have Successfully Subscribed!